HALOJEMBER – Lebaran identik dengan suasana hangat dan kebersamaan.
Namun di balik itu, tidak sedikit anak muda yang justru merasa canggung dalam beberapa momen tertentu.
Mulai dari pertemuan dengan keluarga besar yang jarang ditemui hingga pertanyaan-pertanyaan personal, situasi ini sering kali membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Psikolog sosial, Dimas Pratama menjelaskan bahwa rasa canggung muncul karena adanya tekanan sosial yang tidak disadari.
Anak muda sering kali merasa harus “menampilkan versi terbaik” dirinya di hadapan keluarga.
“Ada ekspektasi tidak tertulis untuk terlihat sukses, sopan, dan ‘baik-baik saja’,” jelasnya.
Salah satu momen yang sering memicu kecanggungan adalah saat harus berbasa-basi dengan kerabat yang jarang ditemui.
Kurangnya kedekatan membuat percakapan terasa kaku dan tidak natural.
Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang terlalu personal juga menjadi pemicu utama.
Topik seperti pekerjaan, pendidikan, hingga hubungan asmara kerap membuat anak muda merasa terpojok.
“Bukan karena tidak mau menjawab, tapi karena tidak semua hal nyaman untuk dibahas di ruang publik keluarga,” ujarnya.
Momen lain yang juga sering memicu kecanggungan adalah saat harus beradaptasi dengan perbedaan generasi.
Cara pandang yang berbeda antara anak muda dan orang tua sering membuat komunikasi tidak berjalan mulus.
Namun menurutnya, rasa canggung tersebut sebenarnya wajar. Hal itu merupakan bagian dari proses sosial yang dialami hampir semua orang.
Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar anak muda tidak terlalu membebani diri.
Menjadi diri sendiri tanpa harus memenuhi semua ekspektasi bisa membantu mengurangi tekanan.
“Tidak harus sempurna. Yang penting tetap sopan dan menghargai,” katanya.
Ia menambahkan, komunikasi yang ringan dan santai justru lebih efektif dalam mencairkan suasana.
“Kadang cukup dengan senyum dan obrolan sederhana, suasana sudah bisa lebih nyaman,” pungkasnya.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi