Dalam kajian Psikologi, kemarahan tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil interaksi kompleks antara pikiran, tubuh, dan lingkungan. Salah satu faktor biologis yang berperan besar adalah hormon Kortisol, yang meningkat saat tubuh mengalami tekanan.
Memahami Mekanisme Kemarahan dalam Otak
Sebelum membahas kebiasaan, penting untuk memahami bagaimana kemarahan bekerja di dalam otak.
Ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menjengkelkan, bagian otak yang disebut Amigdala akan langsung aktif. Amigdala bertugas mendeteksi ancaman dan memicu respons “fight or flight” (lawan atau lari).
Di sisi lain, bagian otak yang disebut Prefrontal Cortex berfungsi untuk mengontrol emosi dan mengambil keputusan rasional. Namun, ketika stres tinggi atau tubuh lelah, fungsi prefrontal cortex melemah, sehingga amigdala menjadi lebih dominan.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih impulsif, mudah tersinggung, dan cepat marah.
Kebiasaan yang Membuat Seseorang Cepat Marah (Berdasarkan Riset)
1. Kurang Tidur dan Gangguan Ritme Sirkadian
Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur secara signifikan meningkatkan reaktivitas emosi. Dalam kondisi lelah, otak cenderung lebih sensitif terhadap rangsangan negatif.
Kurang tidur juga meningkatkan produksi kortisol, yang membuat tubuh selalu dalam mode “siaga stres”. Studi menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki tingkat iritabilitas lebih tinggi dibanding mereka yang tidur cukup.
2. Pola Makan Tidak Seimbang dan Gula Darah Tidak Stabil
Dalam dunia psikologi nutrisi, fluktuasi gula darah sangat memengaruhi suasana hati. Ketika kadar gula darah turun drastis, otak kekurangan energi dan memicu respons stres.
Kondisi ini sering disebut “hangry” (hungry and angry), di mana seseorang menjadi lebih mudah marah saat lapar.
3. Overstimulasi Digital dan Media Sosial
Paparan informasi berlebihan dari platform seperti Instagram dan TikTok dapat menyebabkan kelelahan mental. Konsumsi konten negatif meningkatkan kecemasan, perbandingan sosial (social comparison) memicu frustrasi dan dopamin yang tidak stabil membuat emosi naik-turun.Akibatnya, seseorang menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.
4. Menyimpan Emosi (Emotional Suppression)
Dalam psikologi, menahan emosi dikenal sebagai emotional suppression. Kebiasaan ini tidak menghilangkan emosi, tetapi justru menyimpannya dalam tubuh. Seiring waktu, emosi yang tertahan akan “meledak” dalam bentuk kemarahan berlebihan.
5. Overthinking dan Pola Pikir Negatif
Overthinking membuat seseorang terus-menerus memikirkan kemungkinan terburuk. Dalam Psikologi Kognitif, hal ini disebut sebagai cognitive distortion (distorsi kognitif). Pola pikir ini mempercepat munculnya emosi marah.
6. Perfeksionisme Berlebihan
Perfeksionisme membuat seseorang memiliki standar yang sangat tinggi—baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ketika realita tidak sesuai harapan, muncul frustrasi yang berujung pada kemarahan.
7. Kurang Aktivitas Fisik
Olahraga terbukti secara ilmiah meningkatkan hormon endorfin, yang berfungsi sebagai “penyeimbang emosi”. Tanpa aktivitas fisik, stres cenderung menumpuk dalam tubuh.
8. Lingkungan Sosial yang Toxic
Lingkungan yang penuh kritik, konflik, atau tekanan dapat membuat seseorang selalu dalam kondisi defensif.
Dalam jangka panjang, hal ini membentuk kebiasaan mudah marah sebagai mekanisme perlindungan diri.
9. Kurangnya Kemampuan Regulasi Emosi
Kemampuan mengelola emosi disebut emotional regulation. Tidak semua orang memiliki kemampuan ini secara alami perlu dilatih. Orang dengan regulasi emosi rendah cenderung reaktif, impulsif, dan sulit menenangkan diri
10. Stres Kronis dan Beban Mental Berlebihan
Stres berkepanjangan membuat sistem saraf terus aktif. Tubuh tidak pernah benar-benar “istirahat”. Akibatnya Emosi mudah meledak, toleransi terhadap masalah menurun dan kesabaran semakin tipis.
Editor : Viona Rj