HALO JEMBER – Musim kemarau dengan suhu siang yang panas dan malam yang dingin menggigil kembali terasa di Jember.
Bahkan, lantai rumah di Jember Kota pun pada subuh hari seperti berada di daerah pegunungan saja. Kepala BMKG Banyuwangi Teguh Tri Susanto mengatakan, fenomena alam yang terjadi di Jember. Yaitu malam yang dingin, karena ada pergerakan angin muson timur.
Angin tersebut. yang menggiring massa udara dingin dari Australia ke wilayah Indonesia.
“Berdasarkan data BMKG, suhu udara di Jember mencapai titik rendah 20 derajat celcius,” ucapnya.
Selain itu, faktor lainnya karena tutupan awan yang cenderung sedikit. Sehingga udara panas tidak dapat dipantulkan kembali ke bumi. Tidak hanya di Jember, fenomena ini juga dirasakan di daerah lainnya, terutama di daerah dataran tinggi.
"Fenomena lebih dingin dari biasanya ini terjadi setiap tahunnya. Biasanya terjadi di musim kemarau," kata Teguh kepada RRI Jember, Rabu (19/6/2024).
Fenomena ini, kata dia, diperkirakan akan berlangsung beberapa pekan atau hingga awal Juli mendatang. Dampak dari fenomena ini, tidak hanya perubahan suhu saja. Tapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat.
Untuk itu ia mengimbau, agar masyarakat lebih memperhatikan kondisi kesehatan selama fenomena ini berlangsung. Selain itu juga mengupdate informasi cuaca dari laman resmi BMKG. Ini akan membantu masyarakat untuk memantau kondisi cuaca setiap harinya.
Editor : Dwi Siswanto