HALO JEMBER, Radar Jember – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia mulai menghantui. Bahkan, PHK tak hanya terjadi di ibu kota, tapi mulai menyebar ke pabrik tekstil di Jawa Tengah (Jateng).
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) tercatat sebanyak 52.933 pekerja menjadi korban PHK sepanjang Januari hingga akhir September.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jember Suprihandoko menyebut, faktor utama penyebab meningkatnya angka PHK adalah kondisi ekonomi yang tidak begitu baik.
Namun, dia menyebut PHK yang terjadi di Jember bukan merupakan hal yang mengkhawatirkan. Sebab, angkanya masih tergolong wajar apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Dari 2.500-an perusahaan di Jember, hanya ada 173 laporan PHK. Hal ini tak beda jauh dari tahun sebelumnya. Alasannya pun jelas dan dapat diterima,” jelasnya.
Lebih lanjut, Suprihandoko mengungkap, meningkatnya gelombang PHK tidak akan mengancam Jember. Sebab, berdasarkan pola yang dia amati, jenis perusahaan yang melakukan PHK besar-besaran tersebut tidak ada di Jember.
Misalnya gelombang PHK besar-besaran di perusahaan tekstil di daerah Jawa Tengah, yang kemudian terus bergeser ke pabrik tekstil di Jawa Timur.
“Di Jember mungkin hanya konveksi aja, itu pun tidak akan terdampak,” terang pria asal Kalisat itu.
Suprihandoko menambahkan, berdasarkan kontrak kerja yang didaftarkan Disnaker Jember, angka pekerja baru masih jauh lebih banyak daripada jumlah PHK. Tercatat sepanjang Januari hingga Juli 2024 sebanyak 1.351 pekerja baru.
Meski begitu, pihaknya tetap melakukan upaya untuk menekan angka PHK. Beberapa di antaranya adalah melakukan koordinasi dengan HRD berbagai perusahaan di Jember.
Baca Juga: Membuka Peluang: Menjadi Penata Layanan Operasional di PPPK 2024
Hal itu untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan profesional, serta memiliki skill yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Harapannya perusahaan dan investor betah di Jember. Sehingga lapangan kerja terbuka luas,” sebutnya.
Solusi lain yang ditawarkan Disnaker adalah dengan konsisten melakukan pelatihan dan permagangan bagi para pencari kerja di Jember.
Hal itu diharap mampu menumbuhkan hubungan industrial yang harmonis. Selain itu, perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhannya. (yul/c2/dwi)
Editor : Dwi Siswanto