JEMBER, Halojember.jawapos.com - Di tengah tekanan finansial akibat utang Program J-Keren yang menembus Rp 109 miliar, manajemen RSD dr Soebandi berupaya keras mencari jalan keluar.
Salah satu jalan keluarnya dengan mendongkrak pendapatan rumah sakit.
Program J-Keren yang diluncurkan pada masa pemerintahan bupati sebelumnya semula dimaksudkan untuk memberikan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat lewat skema penggantian biaya dari APBD dan BLUD.
Namun, seiring meningkatnya volume pasien, alokasi anggaran tak mampu mengimbangi kebutuhan.
Hal itu menyebabkan tagihan rumah sakit menumpuk dan likuiditas keuangan tersendat.
Data menunjukkan, utang meningkat tajam dari Rp 35 miliar pada 2022 dan 2023 menjadi Rp 76 miliar pada 2024.
Meski sebagian telah dibayar, sisa tanggungan masih mencapai Rp 109 miliar.
RSD dr Soebandi menanggung beban terbesar di antara tiga rumah sakit daerah karena volume pasien tertinggi dan kompleksitas kasus medis paling tinggi di wilayah Jember.
Situasi itu membuat rasio kas rumah sakit merosot tajam, menghambat investasi penting mulai dari pembelian alat medis hingga pembangunan gedung baru.
Meski begitu, Plt RSD dr Soebandi dr I Nyoman Semita menegaskan, pihaknya tak tinggal diam dan terus melakukan reformasi internal untuk meningkatkan kinerja layanan dan pemasukan.
Pendapatan bulanan yang sebelumnya hanya berkisar Rp 16 hingga Rp 18 miliar kini naik signifikan menjadi Rp 26 miliar atau tumbuh sekitar 44 persen.
Kenaikan ini didorong oleh penerapan program Universal Health Coverage (UHC) yang mendapat dukungan penuh dari Bupati Jember Muhammad Fawait.
Melalui program seperti “Bunga Desaku” dan “Gus’e Menyapa”, pemerintah daerah aktif mengajak masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan gratis dengan syarat ditempatkan di ruang kelas 3.
Sementara ruang kelas 1 disiapkan bagi pasien yang mampu membayar, sehingga terjadi keseimbangan antara misi sosial dan keberlanjutan pendapatan rumah sakit.
Selain promosi dari bupati, perubahan budaya kerja, profesionalisme tenaga medis, dan solidaritas internal menjadi kunci dalam peningkatan performa keuangan.
"RSD dr Soebandi juga mulai meluncurkan berbagai layanan dan inovasi baru untuk menarik minat pasien dari wilayah lain," katanya.
Nyoman optimistis tren kenaikan pendapatan akan berlanjut melalui beragam sumber pembiayaan seperti BLUD, APBD, APBN, hibah, hingga pinjaman bank.
Dana tambahan ini akan digunakan untuk menyelesaikan proyek-proyek mangkrak, memperluas layanan hemodialisa bagi pasien gagal ginjal, serta membangun area parkir yang lebih layak.
Nyoman menjelaskan, manajemen rumah sakit juga menargetkan pembangunan menara rawat inap tujuh lantai.
Fasilitas itu direncanakan memiliki kapasitas tambahan 300 tempat tidur, sehingga total daya tampung rumah sakit ini mencapai 800 unit.
Langkah besar ini diharapkan mampu mengimbangi kebutuhan 600 hingga 700 tempat tidur tambahan di Jember yang hingga kini belum terpenuhi.
Nyoman menegaskan, keberhasilan menyelamatkan RSD dr Soebandi bukan hanya soal keuangan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan publik di Jember. (kin)
Editor : Sidkin