Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Quality Time Bersama Anak dan Keluarga Tak Datang Dua KalI

Dwi Siswanto • Selasa, 18 November 2025 | 00:11 WIB

 

Quality Time Tak Datang Dua KalI
Quality Time Tak Datang Dua KalI

MANGLI, Radar Jember - SUARA tawa dua bocah perempuan sore itu memenuhi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Mangli, Kaliwates. Di balik ayunan yang bergerak pelan, tampak Ardian Candra, seorang ayah muda yang sibuk bekerja namun tak pernah absen meluangkan waktu untuk kedua buah hatinya.

Bagi Ardian, peran pengasuhan bukan hanya milik ibu. Bersama sang istri, ia menerapkan prinsip co-parenting agar anak-anak tetap merasa diperhatikan meski kedua orang tuanya sama-sama bekerja. “Kalau saya lagi senggang, gantian sama istri. Hari ini kebetulan dia ke rumah sakit, jadi saya jagain anak-anak,” ujarnya saat ditemui di RTH Mangli, (2/11).

Ia percaya bahwa kehadiran orang tua secara langsung jauh lebih berarti dibanding sekadar memberi fasilitas. “Main bareng anak itu enggak bisa diulang. Mereka tumbuh cepat, dan waktu bersama itu berharga banget,” katanya.

Filosofi sederhana itulah yang membuat Ardian lebih memilih mengajak anak-anak bermain di alam terbuka ketimbang di pusat hiburan. “Main ayunan, lihat sawah, atau lihat air terjun kecil, itu bikin mereka bahagia,” ujarnya tersenyum.

 Terbebas Tantrum dengan Kebiasaan Sehat

MENERAPKAN “puasa gawai” selama seminggu penuh di rumah mereka pernah diterapkan keluarga Adrian. Kebijakan itu diambil setelah kedua putrinya sempat mengalami tantrum akibat terlalu sering menonton video di ponsel. “Waktu itu kita stop semua. Anak, ayah, ibu, semua puasa handphone. Pokoknya fokus main dan ngobrol saja,” tuturnya.

Konsistensi itu membuahkan hasil. Anak-anaknya kini lebih mudah diajak bicara, jarang tantrum, dan lebih senang beraktivitas di luar rumah. “Ternyata kalau kita hadir sepenuhnya, anak juga lebih tenang,” ujarnya.

Dosen Psikologi Unmuh Jember, Rya Wiyafti Linsiya, menyampaikan, tantrum itu wajar. Artinya, ada proses perkembangan yang dilalui anak.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. “Ada tantrum yang bisa berbahaya dan berindikasi menjadi masalah mental. Jadi, orang tua harus bisa membedakan tantrum yang bermasalah dan tantrum yang wajar,” terangnya.

Tantrum yang sudah mengarah pada masalah, biasanya durasi tandrum lebih dari 30 menit. Selain itu, anak yang melukai diri sendiri ataupun orang lain juga salah satu tantrum yang harus diwaspadai.

Dalam mengatasi tantrum, orang tua tidak perlu panik. Ketika orang tua panik, maka tantrum yang terjadi pada anak akan semakin kuat.

Kedua, yaitu berikan anak waktu untuk mengungkapkan emosi. Biarkan anak mengekspresikan apa yang dia mau. Jangan dipukul, disudutkan, atau disalahkan. Tetapi, orang tua harus tahu dan memberi waktu lima sampai 10 menit kepada anak. Setelahnya, orang tua harus berkomunikasi dengan anak. “Jangan terlalu lama membiarkan anak menangis,” terangnya.

Cara ketiga yaitu ajak anak berdiskusi. Setelah anak tenang, mulai ajak untuk diskusi. Tanyakan mengapa melakukan hal tersebut. Harus diberi penjelasan dan alasan agar bisa diterima oleh anak. Cara selanjutnya adalah berikan apresiasi pada anak.

“Setelah anak tenang, beri pujian, kata-kata apresiasi, serta pelukan kasih sayang. Hal itu nantinya akan memunculkan kedekatan emosi antara anak dengan orang tua,” tuturnya. (mau/dwi)

 

Editor : Dwi Siswanto
#parenting #quality time #pusat hiburan #anak anak #tantrum