HALOJEMBER – Trik atau strategi spiritual-logistik yang satu ini bisa dicoba oleh seluruh warga yang tinggal di Kabupaten Jember.
Di sudut kota, di tengah masyarakat Jember yang menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan 2026, ada dua sejoli, cowok dan cewek yang sedang bercanda.
Sang cowok sebut saja namanya Setya (bukan nama asli) berceloteh tentang sebuah perjalanan jauh yang mungkin bisa disebut musyafir.
Sementara, di bangku kayu ada cewek cantik Vanny (bukan nama asli) yang duduk nampak cukup serius menyimak cerita Setya.
Setya ini merupakan warga asal Jember yang sudah bekerja. Sementara Vanny adalah cewek manis yang datang dari Bali untuk kuliah di Jember.
Di tengah ngerumpi santai itu, dagelan Setya pun muncul. Dia tiba-tiba membanggakan adanya penerbangan pesawat langsung Wings Air dari Bandara Notohadinegoro Jember ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan sebaliknya.
Nah, saat itu, muncul candaan cerdas mengenai cara "memperpendek atau memangkas" waktu lapar menahan puasa.
Logika yang dilontaskan Setya cukup sederhana, namun begitu mematikan. Logika ini pun diamini oleh Vanny yang berasal dari Denpasar Bali.
Setya menyebut, Jember berada di zona Waktu Indonesia Barat (WIB), sedangkan Bali sudah masuk Waktu Indonesia Tengah (WITA), satu jam lebih cepat.
"Kalau di Jember buka puasa jam 16.50 WIB, maka di Bali sudah jam 17.50 WITA. Artinya lebih cepat satu jam. Bagaimana jika kita sekarang dari Jember ke Bali?” katanya di sudut kota Jember.
Dagelan ini pun disambut hangat oleh Vanny. Dia menyebut, jika berangkat ke Bali maka waktu berbuka puasa bisa terpangkas satu jam. “Ini bisa dicoba nanti saat saya mudik,” ulasnya.
Strategi ini disebut "Ngabuburit Lintas Zona."
Ini dilakukan dengan memesan penerbangan siang hari. Berdasarkan jadwal resmi, pesawat berangkat dari Jember pukul 13.00 WIB dan mendarat di Denpasar pukul 15.20 WITA.
Hanya dengan duduk manis di pesawat selama sekitar 80 menit, penumpang seolah-olah "melompati" waktu karena setibanya di Bali, sisa waktu menuju Magrib terasa jauh lebih singkat akibat lompatan zona waktu tersebut.
Tentu, ini akan memberikan kepuasan tersendiri bagi para pengejar takjil yang gabut saat ngabuburit.
"Ini bukan soal curang, ini soal manajemen waktu tingkat dewa," timpat Setya sambil tertawa.
Pihak otoritas bandara dan Pemkab Jember menilai rute ini sebagai "jembatan emas" ekonomi, namun bagi dagelan warga, rute ini lebih mirip "jembatan percepatan untuk buka puasa".
Bagaimana, kamu mau mencobanya tidak?
Editor : Hariri HJ