JEMBER, Halojember – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan meningkatkan kualitas gizi siswa dinilai perlu pengawasan lebih serius di lapangan.
Centre of Local Economy and Politics Studies (COLEPS) Jember meminta sekolah lebih selektif menerima distribusi makanan demi menjaga keselamatan peserta didik.
Dalam pernyataan sikapnya, COLEPS menegaskan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi anak-anak.
Karena itu, kualitas makanan yang diterima siswa harus memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.
“Sekolah adalah ruang yang seharusnya aman bagi anak,” kata Ketua COLEPS Jember Sapto Raharjanto dalam pernyataannya yang diterima Halojember.
Berdasarkan pemantauan mereka, menu yang dibagikan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prinsip makanan bergizi seimbang.
Bahkan ditemukan indikasi makanan kurang segar yang berisiko mengganggu kesehatan siswa apabila terus berulang.
“Menu yang didistribusikan cenderung bersifat junk food yang rendah nutrisi namun tinggi natrium/pengawet," terang Sapto.
Pihaknya menilai tujuan baik program pemerintah dapat tercapai apabila seluruh pihak berani melakukan evaluasi terbuka.
Mereka mendorong adanya dialog antara sekolah, wali murid, dan lembaga peduli anak untuk menentukan standar menu yang benar-benar layak.
Selain itu, momentum Ramadan juga menjadi perhatian khusus.
COLEPS menyebut kualitas makanan justru dilaporkan menurun selama periode tersebut, sehingga perlu perhatian serius agar program tetap relevan dengan kebutuhan siswa.
Mereka berharap langkah korektif dapat segera dilakukan sehingga program MBG tetap berjalan dengan kualitas yang lebih baik dan memberi manfaat nyata bagi tumbuh kembang anak.*
Editor : Sidkin