HaloJember – Memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama pasca serangan yang melibatkan perang antara Iran dan koalisi AS-Israel, mengundang perhatian berbagai pihak, termasuk ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
Dalam berbagai ceramahnya yang kerap membahas konflik geopolitik secara implisit maupun eksplisit (seperti konflik Palestina-Israel).
Gus Baha dikenal memiliki pandangan yang mengedepankan kebijaksanaan, kesejarahan, dan prinsip Al-I'tishamu bi-hablillah (berpegang teguh pada tali Allah) daripada sekadar emosi keagamaan.
Baca Juga: Tiga Permintaan Iran untuk Akhiri Perang dengan AS-Israel setelah Iran di Atas Angin
Pandangan Gus Baha terhadap Konflik Iran vs AS-Israel
Mengutamakan "Kemaslahatan" daripada Perang: Gus Baha sering menekankan bahwa Islam adalah agama yang menghendaki perdamaian dan kemaslahatan (maslahah).
Dalam konteks konflik bersenjata, apalagi yang melibatkan kekuatan besar, pendekatan yang paling utama adalah menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu.
Kritik terhadap Keburukan Narasi "Perang Suci": Meskipun ada narasi pembelaan agama, Gus Baha sering mengingatkan agar umat Islam tidak terburu-buru menyebut setiap konflik sebagai "perang akhir zaman" atau "perang suci" yang mengabaikan kaidah fikih siyasah (politik) yang matang.
Baca Juga: Kapan Perang Iran vs Israel-AS Akan Berakhir? Ini Jawabannya
Perspektif Sejarah (Kekalahan dan Kemenangan): Beraca pada sejarah Islam, Gus Baha pernah menyinggung bahwa perang seringkali membawa penderitaan bagi masyarakat sipil.
Ia cenderung menekankan bahwa kekuatan sesungguhnya bukan melulu pada senjata, melainkan pada ketahanan iman dan kekuatan masyarakat (civil society).
Prediksi Akhir Perang: "Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu"
Berdasarkan pola pemikiran Gus Baha yang sering merujuk pada realitas sejarah dan kaidah fikih, ia cenderung tidak memihak pada narasi kemenangan mutlak dalam perang modern.
Tidak Ada Pemenang Mutlak: Konflik seperti Iran melawan AS-Israel kemungkinan besar akan berakhir dengan stalemate (situasi macet) atau kesepakatan damai yang rapuh.
Keduanya akan mengalami kerugian ekonomi dan kemanusiaan yang masif.
Pemenang adalah yang Menahan Diri: Dalam pandangan sufistik-fukaha, pemenang sejati adalah pihak yang mampu menahan diri dari kezaliman dan kehancuran yang lebih besar.
Fokus pada Kemanusiaan: Gus Baha cenderung menekankan pentingnya melindungi warga sipil, daripada fokus pada siapa yang menang atau kalah militer.
Pandangan Gus Baha ini, mengarahkan umat untuk lebih banyak bermuhasabah (introspeksi) dan tidak terjebak dalam emosi politik global.
Baca Juga: Rupiah Ambrol Tembus Rp17.000 per Dolar, Pengusaha Ketar-Ketir di Tengah Perang Timur Tengah
Prediksi akhir perang ini, jika mengacu pada pandangan beliau mengenai konflik, adalah kesia-siaan yang membawa penderitaan panjang, di mana negara-negara yang terlibat justru terpuruk secara ekonomi dan kemanusiaan, terlepas dari klaim kemenangan militer yang didengungkan.
Editor : Hariri HJ