MADINAH, Halojember - Menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia di Madinah, satu hal yang tak luput dari perhatian adalah kualitas konsumsi yang akan mereka terima setiap hari.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memastikan makanan jemaah tidak hanya cukup, tetapi juga aman, higienis, dan bergizi.
Pengawasan dilakukan secara ketat dan berlapis dengan melibatkan tim dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung.
Proses pengawasan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui tiga tahap utama, mulai dari pra produksi, proses memasak, hingga distribusi makanan ke hotel.
Baca Juga: Apa Saja yang Perlu Dibawa Saat Naik Haji? Ini Jawabannya Agar Jadi Haji yang Mabrur
Setiap tahapan diperiksa secara detail untuk memastikan tidak ada celah yang bisa menurunkan kualitas makanan jemaah.
Perwakilan tim pengawas Poltekpar NHI Bandung, Nova MH, menegaskan bahwa standar operasional prosedur diterapkan tanpa kompromi.
“Pengecekan rutin dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” ujarnya di Madinah, Minggu (19/04).
Tak banyak yang tahu, pengawasan bahkan sudah dimulai sejak dini hari ketika sebagian besar orang masih terlelap.
Untuk memastikan kualitas makan pagi, tim sudah bekerja sejak pukul 00.00 hingga 04.00 saat proses memasak berlangsung.
Pengawasan kemudian berlanjut pada proses makan siang yang dimulai sejak pagi hari.
Selain proses memasak, penyimpanan bahan makanan juga diperiksa secara berkala.
Bahan segar maupun kering dipastikan dalam kondisi layak konsumsi dan tidak mengalami kerusakan.
Baca Juga: Cegah War Ticket Haji, DPR Usul Pembatasan Tegas Bagi Pendaftar dari Kalangan Mampu
Tantangan terbesar datang dari cuaca ekstrem di Arab Saudi yang bisa memengaruhi kualitas makanan.
Karena itu, suhu makanan saat distribusi menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan.
“Makanan harus berada pada suhu 60–70 derajat Celsius saat didistribusikan ke hotel agar tetap higienis dan tidak mudah basi,” jelas Nova.
Jemaah pun diimbau tidak menunda waktu makan setelah makanan diterima.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Bagaimana Nasib Haji 2026? Ini Penjelasan Menhaj dan Dubes Saudi
Penundaan konsumsi berisiko menurunkan kualitas makanan, meskipun masih dalam kondisi tertutup.
Tak hanya soal keamanan, kandungan gizi juga menjadi perhatian utama.
Komposisi protein, karbohidrat, dan serat disusun secara seimbang untuk menjaga kondisi fisik jemaah tetap prima.
Sumber protein disediakan dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe yang tetap dihadirkan sebagai menu khas Indonesia.
Sementara itu, kebutuhan vitamin dan serat dipenuhi dari sayur dan buah seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.
“Kami juga menambahkan menu seperti puding untuk membantu asupan serat jemaah,” tambahnya.
Meski ketersediaan sayuran hijau di Arab Saudi terbatas, penyedia makanan tetap mencari alternatif tanpa mengurangi nilai gizi.
Semua upaya ini dilakukan agar jemaah tetap sehat dan kuat menjalani rangkaian ibadah haji.
Dengan pengawasan ketat dari hulu ke hilir, Kemenhaj berharap setiap sajian yang diterima jemaah bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjaga daya tahan tubuh mereka selama di Tanah Suci.*
Editor : Sidkin