Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Jelang Puncak haji, Lansia dan Resti yang Rawan Kelelahan Mendapat Layanan Prioritas

Yulio Faruq Akhmadi • Selasa, 26 Mei 2026 | 09:01 WIB
KHUSYUK: Jamaah kloter 96 mantapkan diri sebelum menuju puncak haji di Arafah. (Regar Jeane Dealen Nangka/Halo Jember)
KHUSYUK: Jamaah kloter 96 mantapkan diri sebelum menuju puncak haji di Arafah. (Regar Jeane Dealen Nangka/Halo Jember)

MEKKAH, Halo Jember – Puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) mulai berlangsung kemarin (25/5).

Cuaca ekstrem dan tingginya kepadatan jamaah menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi meningkatkan risiko kelelahan, terutama bagi jamaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (resti).

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jember, Nur Sholeh, menegaskan bahwa jamaah lansia dan resti menjadi prioritas utama pelayanan haji tahun ini.

Kelompok tersebut mendapat perhatian khusus karena kondisi fisik yang lebih rentan saat menjalani rangkaian puncak ibadah di Armuzna.

Menurutnya, skema pelayanan haji tahun ini dirancang lebih ramah bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas.

Baca Juga: Buah Apa Yang Paling Manis? Asal-Usul Lagu Mas Bahlil Ganteng, Dari Komentar Netizen jadi Viral di FYP TikTok 

“Haji tahun ini adalah haji berkeadilan, ramah lansia, dan ramah disabilitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan petugas khusus layanan lansia dan disabilitas (landis) guna memastikan jamaah resti mendapatkan pendampingan optimal selama pergerakan di Armuzna.

Petugas tersebut difokuskan untuk membantu mobilitas jamaah, penggunaan kursi roda, hingga pemantauan kondisi kesehatan secara berkala di lapangan.

Nur Sholeh menambahkan, penanganan jamaah lansia dan resti tidak hanya dilakukan petugas khusus, tetapi juga melibatkan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, dan paramedis.

“Di kloter sendiri kami memberikan perhatian, baik oleh ketua kloter, pembimbing ibadah, maupun tenaga kesehatan dan paramedis,” katanya.

Selain itu, tantangan cuaca panas dan kepadatan jamaah juga menjadi perhatian serius.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kelelahan, khususnya bagi jamaah lansia dan resti. 

Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk pengaturan pergerakan jamaah yang lebih ketat dan terukur.

Pemerintah juga menyediakan sejumlah fasilitas pendukung, seperti tenda berpendingin udara, akses layanan kesehatan yang lebih cepat, serta pengaturan arus jamaah yang lebih ramah bagi lansia.

Baca Juga: Waktu yang Tepat untuk Pembagian Daging Kurban Setelah Disembelih Agar Tetap Segar

Upaya tersebut dilakukan untuk meminimalisasi risiko kesehatan selama puncak ibadah haji.

Selain itu, diterapkan pula skema murur bagi jamaah lansia dan resti sehingga mereka tidak perlu turun di Muzdalifah dan dapat langsung melanjutkan perjalanan ke Mina.

Skema ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan sekaligus menjaga kondisi jamaah tetap stabil.

Di akhir keterangannya, Nur Sholeh mengimbau keluarga jamaah di tanah air agar tetap tenang dan terus mendoakan kelancaran ibadah haji.

Ia memastikan seluruh petugas telah disiagakan untuk mendampingi jamaah lansia dan resti agar dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan aman dan tertib selama momentum Armuzna. (dhi/dwi/yul)

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#mekkah #haji