Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

PMI Jatim Tinjau Dropping Air Bersih di Jember, Pastikan Warga Terdampak Kekeringan Terlayani dengan Optimal

Sidkin • Selasa, 14 Juli 2026 | 16:30 WIB
PMI Jatim Tinjau Dropping Air Bersih di Jember, Pastikan Warga Terdampak Kekeringan Terlayani Optimal. (Sidkin/Halojember)
PMI Jatim Tinjau Dropping Air Bersih di Jember, Pastikan Warga Terdampak Kekeringan Terlayani Optimal. (Sidkin/Halojember)

 

JEMBER, Halojember – Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagian kecil wilayah mulai merasakan kesulitan air bersih.

Hal ini pun menjadi perhatian Palang Merah Indonesia (PMI) Jember. Untuk memastikan bantuan benar-benar menjangkau warga, PMI Provinsi Jawa Timur turun langsung memantau distribusi air bersih yang dilakukan PMI Jember di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Selasa (14/7/2026).

Dusun Bunder menjadi salah satu wilayah yang rutin menerima pasokan air bersih.
Sejatinya, persoalan di kawasan tersebut bukan semata karena sumber air mengering. Sebagian sumur warga masih mengeluarkan air, tetapi kualitasnya sudah tercemar. Alhasil tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Oleh karena itu, distribusi air bersih terus dilakukan agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Jember Edy Purwinarto mengatakan, monitoring dari PMI Jawa Timur dilakukan untuk melihat langsung kesiapan relawan sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.

Terlebih, fenomena El Nino telah diperkirakan membawa musim kemarau yang berpotensi memicu krisis air bersih hingga beberapa bulan ke depan.

Menurut Edy, penanganan dampak kekeringan membutuhkan kerja sama banyak pihak. Selain PMI, distribusi air bersih di Jember juga melibatkan BPBD, Dinas Cipta Karya, Perumdam, dan pemerintah daerah sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi tanpa dipungut biaya.

"PMI tidak bisa bergerak sendiri. Semua harus berkolaborasi agar masyarakat yang membutuhkan bisa segera mendapatkan bantuan air bersih," ujarnya.

Ia menambahkan, PMI memiliki standar operasional (SOP) yang mengharuskan bantuan tiba di lokasi paling lambat enam jam setelah penugasan. Namun untuk bencana yang dapat diprediksi seperti kekeringan, langkah antisipasi justru lebih diutamakan.

"Jangan sampai masyarakat sudah dalam kondisi sangat kesulitan baru kemudian kita hadir. Karena kekeringan bisa diprediksi, maka kesiapsiagaan harus lebih dikedepankan," katanya.

Berdasarkan pemetaan PMI Jawa Timur, terdapat 29 kabupaten/kota yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Hingga saat ini, enam daerah telah menjalankan distribusi air bersih, termasuk Kabupaten Jember dan Bondowoso.
Monitoring yang dilakukan PMI Jawa Timur diharapkan semakin memperkuat koordinasi lintas lembaga sehingga layanan kemanusiaan kepada warga terdampak dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan. (kin)

Editor : Sidkin
PMI Provinsi Jawa Timur air bersih PMI Jember musim kemarau dropping air bersih