Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ancaman Perubahan Iklim bagi Nelayan Opini : Kusnadi

Alvioniza • Kamis, 13 Juni 2024 | 16:00 WIB

 

Kusnadi
Kusnadi

Harian Radar Jember (Jumat, 7 Juni 2024) memberitakan tentang terjadinya ombak besar yang melanda kawasan pesisir Getem, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger.

Peristiwa alam yang datang setiap saat ini sangat mengganggu rutinitas usaha warga lokal yang membuka warung di tempat wisata, seperti Pantai Cemara.

Para nelayan pun dipaksa harus libur melaut karena ancaman ombak besar dan angin kencang di tengah laut dapat membahayakan keselamatan jiwa.

Peristiwa alam tersebut yang biasanya datang secara tiba-tiba dan terjadi di berbagai kawasan pesisir merupakan akibat dari perubahan iklim. Gejala lain yang muncul dari perubahan iklim tersebut adalah memudarnya batas-batas musim barat dan musim timur di kawasan pesisir.

Di sektor pertanian, pemudaran batas-batas musim tersebut terkait dengan masa musim hujan dan musim kemarau sehingga mengganggu proses produksi kegiatan pertanian.

Di kalangan masyarakat nelayan Getem, tanda-tanda perubahan iklim sudah berlangsung sejak tahun 2008. Periode 2020-an sekarang, keadaannya sudah lebih meningkat. Secara tradisional, musim barat biasanya berlangsung pada bulan Desember-Januari, paling lama sampai Maret.

Pada masa tersebut, nelayan libur melaut karena adanya ombak besar dan angin kencang. Musim barat merupakan musim paceklik ikan.

Nelayan mulai melaut tanpa gangguan alam berlangsung pada bulan April–November ketika musim timur. Untuk sekarang, batas-batas musim barat dan musim timur sudah tidak berlaku.

Ombak besar dan angin kencang bisa datang kapan saja karena tidak ada lagi batasan bulannya. Pergeseran dan perubahan musim akibat perubahan iklim telah mempersulit nelayan menangkap ikan.

Hasil penelitian yang saya lakukan tentang Perubahan Sosial-Ekonomi Nelayan Getem (2023) menemukan data bahwa perubahan iklim merupakan ancaman terbesar dan paling nyata bagi nelayan melakukan penangkapan.

Dalam satu tahun masa kerja, gangguan ombak besar dan angin kencang yang sering terjadi telah mengurangi jumlah hari kerja melaut bagi nelayan.

Pengurangan hari kerja nelayan tersebut secara langsung berpengaruh terhadap penurunan tingkat pendapatan yang diperoleh nelayan dalam sekali melaut.

Bagi nelayan, melaut merupakan kegiatan spekulatif karena kepastian perolehan hasil tangkapan tidak dapat diprediksi sebelumnya. Dalam sekali melaut, bisa saja memperoleh hasil tangkapan senilai Rp 200.000 atau lebih dari Rp 1.000.000 atau tidak dapat sama sekali hasil tangkapan.

Makanya, kalau kita bertanya kepada nelayan tentang berapa rata-rata pendapatan melaut dalam satu hari, satu minggu, atau satu bulan, sudah pasti mereka tidak akan bisa menjawab secara tepat.

Hambatan melaut yang disebabkan oleh perubahan iklim tidak hanya berlangsung dalam 1-2 hari, tetapi bisa berlanjut hingga 1-2 minggu. Masa-masa demikian sangat menekan kehidupan ekonomi rumah tangga nelayan karena tidak ada pemasukan dari melaut.

Dampak sosialnya adalah gangguan terhadap sendi-sendi perekonomian nelayan dan kawasan pesisir. Dalam situasi demikian, seluruh sumber daya keuangan rumah tangga akan dimanfaatkan untuk menopang pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Jika masih belum mencukupi, biasanya istri nelayan akan berupaya keras mencari pinjaman uang ke berbagai pihak, seperti ke toko sembako, kerabat, dan pedagang ikan.

Istri-istri nelayan akan membayar kembali pinjamannya jika suaminya sebagai nelayan sudah mulai melaut lagi dan memperoleh pendapatan yang memadai.

Ancaman perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup masyarakat nelayan tetap menjadi persoalan serius yang harus diatasi.

Strategi mengatasi kesulitan rumah tangga nelayan dengan cara mencari pinjaman uang merupakan cara umum yang ditempuh oleh rumah tangga nelayan.

Strategi demikian tidak dapat lagi dipertahankan. Pengandalan pendapatan ekonomi dari kegiatan melaut sebagai sumber utama ekonomi rumah tangga, seharusnya sudah mulai ditinggalkan.

Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Jember berkewajiban mentransformasikan kegiatan perekonomian pesisir menjadi lebih beragam.

Pengembangan keragaman sektor ekonomi di kawasan pesisir Puger, Gumukmas, dan Paseban dapat dilakukan dengan membangun destinasi wisata bahari, industri pengolahan berbasis hasil laut, dan bahan pangan pertanian, serta peningkatan pertanian hortikultura.

Perhatian terhadap sektor pertanian lahan pesisir harus dilakukan karena basis ekonomi masyarakat pesisir secara umum bertumpu pada potensi sumber daya agro-maritim.

*) Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

 

Editor : Halo Jember
#nelayan #opini #iklim