DALAM rangka menyambut hari diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia ke-79 tahun, Jember menjadi wilayah yang turut mewarnai hingar bingar kemeriahannya. Layaknya event agustusan, beberapa kecamatan, kelurahan, hingga rukun tetangga (RT) menggelar berbagai lomba dan festival. Hal itu merupakan upaya untuk menggelorakan semangat nasionalisme di salah satu kabupaten di daerah Tapal Kuda.
Meskipun perayaan kemerdekaan dalam rangka menyegarkan ingatan kebangsaan diselenggarakan tiap tahun, Jember sejatinya memiliki beberapa objek yang menyimbolkan nilai perjuangan dan nasionalisme.
Simbol yang terwujud dalam bentuk monumen, tugu, nisan peringatan, dan patung tersebar di berbagai penjuru Kabupaten Jember.
Pertama, Monumen Mastrip di Kecamatan Jelbuk. Monumen itu didirikan untuk mengenang jasa para pejuang yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) regional Jember saat Agresi Militer Belanda pertama pada 1947.
Para pemuda Jember yang mayoritas masih duduk di bangku sekolah berhasil menyulitkan gerak pasukan Belanda dari utara.
Kedua, masih di bagian utara Jember terdapat Monumen Palagan Jomerto di Kecamatan Patrang. Monumen itu memperingati pertempuran pada Agresi Militer Belanda II awal tahun 1949.
Nisan yang mengitari monumen mencatat beberapa korban yang gugur dari anggota brigadir mobil (brimob), pegawai tinggi hingga masyarakat sekitar.
Ketiga, beralih ke sebelah Tenggara terdapat monumen untuk memperingati jasa Letnan Kolonel Moch. Sroedji, Letnan Kolonel Soebandi dan prajuritnya di Kecamatan Mumbulsari.
Monumen yang berwujud lima (5) bambu runcing itu berdiri di pelataran bangunan Masjid An Nuur. Terdapat nisan yang bertuliskan nama-nama pejuang yang gugur dari Brigade III Damarwulan pada Agresi Militer Belanda II tahun 1949.
Keempat, masih terkait dengan tokoh Moch. Sroedji, Pemerintah Kabupaten Jember mendirikan patung komandan Brigade III Damarwulan itu di halaman kantor bupati Jember.
Jasa dan pengorbanannya dalam memperjuangkan kemerdekaan membawa namanya dikenang sebagai sosok pahlawan dari Jember.
Ratna Endang (dosen Ilmu Sejarah Universitas Jember) dalam Jember pada Masa Revolusi Fisik 1945-1949 (2018) mengisahkan sepak terjang Moch. Sroedji dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Masih banyak tugu dan monumen peringatan yang menyimbolkan entitas kebangsaan Indonesia di Jember seperti halnya bangunan kantor bupati yang jika dilihat dari atas akan nampak bagaikan burung garuda.
Tugu dan monumen merupakan penanda atau simbol sederhana yang dapat diinterpretasikan secara luas. Masyarakat yang melihat monumen atau tugu peringatan akan diajak berpetualang ke masa lalu.
Pandangan atas suatu simbol akan langsung tertuju ke masa silam sebelum memahami substansi peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Simbol sejatinya adalah ide yang berhasil diungkapkan dalam wujud objek nyata. Tujuan diwujudkannya suatu objek simbolik adalah untuk mengenang dan melanggengkan memory collective masyarakat daerah sekitar.
Ingatan yang terejawantahkan dalam bentuk monumen dan tugu sebelumnya adalah ingatan tentang perjuangan bangsa khususnya masa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (Baca: Revolusi Indonesia).
Dalam hal ini, Jember berhasil menciptakan bangunan simbolis yang mampu mengawetkan ingatan masyarakat terhadap suatu peristiwa bersejarah di masa silam.
Selain itu, pelestarian ingatan kolektif diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mengukuhkan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat.
Lebih jauh, masyarakat dituntut untuk kritis dan bijaksana dalam menyikapi keberadaan suatu monumen peringatan. Ross Poole dalam artikel Memory, History and the Claims of the Past (2008) menyatakan bahwa ingatan masa lalu dapat menjadi beban bagi negara dan masyarakatnya.
Beban yang dimaksud adalah beban masa lalu yang senantiasa perlu dilestarikan agar tidak pudar dan lekang oleh zaman. Jika hilang, apa jadinya sejarah bangsa kita?
Negara melalui pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar dalam menangani fenomena itu. Dengan demikian, monumen menjadi objek simbol yang (setidaknya) paling mudah mengunci ingatan masyarakat karena keberadaannya dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Triumviraat Universitas Jember
Monumen Triumviraat di pelataran Universitas Jember pun memiliki makna dan beban tanggung jawab bagi seluruh civitas academica-nya. Tanggung jawab akademik sama halnya yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 45’ tentang tujuan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta tanggung jawab moral untuk melanggengkan nilai-nilai perjuangan para pendiri perguruan tinggi dengan tridarmanya.
Ingatan itu akan senantiasa terpatri dalam sanubari seluruh civitas academica Universitas Jember karena Monumen Triumviraat adalah simbol perjuangan itu sendiri. Secara fisik pun, tiga patung ikon Universitas Jember selalu menyambut dari teras depan kampus.
Monumen, tugu, nisan dan patung adalah objek sederhana untuk menyalurkan simbol atau nilai tertentu. Banyak monumen didirikan untuk mengawetkan ingatan kolektif masyarakat sekitarnya. Tidak hanya monumen peringatan peristiwa besar seperti Revolusi Nasional untuk menciptakan nasionalisme, namun juga monumen-monumen lain yang ranah dan tujuan pendiriannya jauh lebih luas.
Sebagai insan masyarakat yang berbudaya, perlu kiranya memahami sejarah melalui cara yang paling sederhana dengan melestarikan ingatan kolektif dan bersama-sama mewujudkan tata nilai masyarakat yang harmonis untuk kehidupan yang lebih sejahtera.
Sama halnya yang disampaikan Nietzsche dalam artikel berjudul On the Utility and Liability of History for Life (1995) bahwa menerima tanggung jawab melanggengkan ingatan kolektif memberikan jalan masuk ke dalam bentuk kehidupan yang lebih kaya, lebih dalam, dan lebih menarik dibandingkan alternatif lainnya. (*)
*) Penulis adalah Dosen Ilmu Sejarah, Universitas Jember.
Editor : Halo Jember