Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

 “Fufufafa” dan “Eksepsi” Mas Gibran . OPINI: Asmu’i Syarkowi  

Dwi Siswanto • Sabtu, 28 September 2024 | 03:36 WIB

 

Asmu
Asmu

Jagat
medsos akhir-akhir ini dihebohkan oleh makhluk bernama “fufufafa”. Selidik punya selidik, itu hanyalah sebuah akun media sosial. Akun tersebut berisi status kebencian dan homofobik ke pelbagai pihak. Menurut pantauan pakar telematika Roy Suryo, sebagaimana ditulis RMOL.ID (22 September 2024), akun tersebut tidak hanya menuliskan sekitar 5 ribu postingan yang sarat hujatan dan caci maki kepada tokoh-tokoh bangsa, tetapi juga terungkap rajin mengakses situs porno lokal maupun mancanegara. Ketika akun tersebut milik orang biasa mungkin tidak seviral saat ini.

Masalah menjadi lain ketika masyarakat lantas menghubungkan akun tersebut dengan sosok bernama Gibran Rakabuming Raka (Mas Gibran) yang tidak lain adalah seorang putra sulung Presiden Joko Widodo sekaligus Wakil Presiden terpilih pada pemilu langsung pada Rabu 14 Februari 2024 lalu. Tidak tanggung-tanggung, kemenangannya dari 2 paslon lainnya diraih hanya dalam satu kali putaran. Dan, yang lebih seru konon akun tersebut juga berisi penghinaan terhadap Prabowo Subianto dan keluarganya. Roy Suryo yang mantan Menpora era SBY itu sangat yakin bahwa akun tersebut 99, 9 persen adalah milik Gibran.

Mas Gibran sendiri saat ini layaknya sebagai seorang terdakwa. Saat ditanya mengenai akun yang menghebohkan itu, memang belum berkomentar banyak. “Lha embuh, takono sing duwe akun (Tidak tahu, tanya saja pemilik akun),” kata Mas Gibran pada hari Selasa (10-2024), sebagaimana dikutip oleh TribunJatim.com (22 September 2024).

Tentang benar tidaknya apakah akun tersebut milik Mas Gibran, kita serahkan saja kepada ahli untuk memastikannya. Tetapi ujung dari penyelidikan tersebut pasti hanya dua kemungkinan yaitu “ya” dan “bukan”.

Dalam tradisi keilmuan hukum (hukum acara) jawaban singkat Mas Gibran di atas, bisa disebut sebagai sebuah eksepsi, yaitu sebuah tangkisan atau sangkalan yang tidak mengenai pokok perkara. Secara tidak langsung Mas Gibran mungkin ingin mengatakan bahwa fufufafa itu bukan saya. Mas Gibran tidak mau menanggapi isi materi unggahan yang ada dalam akun yang berisi materi perkaranya.

Terutama ketika isi unggahan tersebut berisi hinaan terhadap Prabowo Subianto yang tidak lain adalah Presidin terpilih pasangannya.

Jika kasus fufufafa tersebut terus bergulir, pada tahap selanjutnya, dunia perpolitikan tanah air tentu akan sangat seru. Kita pun boleh menanyakan akankah kasus demikian disetarakan dengan skandal senator Gary Hart tahun 1987, sang kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat. Karir politisi brilian—pria yang kisah skandalnya diangkat dalam layar lebar The Front Runner--itu hancur oleh sebuah skandal seks.

Kasus fufufafa yang dikaitkan dengan Mas Gibran dengan kasus skandal seks Gary hart jelas berbeda: Pertama, kalau memang benar fufufafa milik Mas Gibran, kasusnya baru terkuak saat Mas Gibran telah terpilih menjadi wakil presiden, sedangkan kasus Gary Hart terjadi saat masih kampanye (belum resmi terpilih). Kedua, fufufafa berisi penghinaan dan konon menunjukan kecenderungan pada pornografi sedangkan kasus Gary Hart benar-benar ‘dugaan’ sebuah skandal seks. Namun, tampaknya publik terlanjur menganggap fufufafa juga sebuah skandal.

Tetapi apa pun alasannya kasus fufufafa jelas memberikan pelajaran kepada semua orang, terutama para politisi. Pelajaran itu adalah “harus berhati-hati bergelut dengan dunia medsos”. Karena di sana tidak hanya terdapat catatan emas tetapi juga catatan noda hitam yang tersimpan rapi dalam bentuk “jejak digital”.

Dalam konteks demikian, saat ini, siapa pun tidak perlu merasa sok suci karena catatan itu pada waktunya akan berkata-kata tentang kita. Orang bijak mengatakan: “Manusia (biasa) tidak mungkin selamanya baik karena memang bukan malaikat tetapi juga tidak selamanya jahat karena memang bukan setan”. Manusia bisa bersih dalam satu hal tetapi bisa kotor dalam hal lain. Intinya tidak ada manusia sempurna. Persoalannya, bagaimana agar orang cepat sadar dengan kesalahan. Yang perlu kita waspadai bahwa, apa yang saat dianggap baik atau biasa-biasa saja, bisa saja dianggap tidak baik pada masa mendatang.

Di dunia yang serba nisbi ini tampaknya pada setiap masa punya parameter tentang kebaikan dan keburukan sendiri. Agama mengajarkan, jangan tertipu dengan banyaknya prestasimu, karena yang dihitung adalah bagaimana merebut finish hidup dengan prestasi.

Baca Juga: Mitos Kepuhunan di Kalimantan: Kepercayaan Leluhur yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat

Di Amerika sendiri Gary Hart sebenarnya bukanlah politisi pertama yang terlibat skandal seks, hanya saja pada era sebelumnya skandal seks memang dianggap sesuatu yang ‘haram’ dibicarakan karena memang urusan privasi.

Kalau tidak John F. Kennedy dan Lyndon B. Johnson. Dengan kata lain, cara pandang masyarakat tentang nilai bisa berubah sesuai kepentingan dan zamannya. Kita tidak perlu menertawakan apalagi bertempik sorak melihat orang jatuh karena bisa jadi kita atau anak cucu kita mengalami nasib yang sama. Dan, yang lebih penting kita perlu percaya petuah bijak: “becik ketitik olo ketoro” (Semua kebaikan akan tercatat, keburukan pun pada saatnya akan pula kelihatan). Perbedaan pilihan hidup termasuk politik, tidak perlu membuat kita saling membenci secara berlebihan.

 

*) Penulis adalah Hakim Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Banjarmasin yang sebelumnya pernah menjadi Hakim Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi dan Lumajang.

Baca Juga: Rekomendasi 6 Drama Korea Siap Menemani Kamu di Bulan September

 

Editor : Dwi Siswanto