KALAU kita bicara soal film Pengepungan di Bukit Duri, yang dirilis di bioskop pada 17 April 2025 lalu, yang langsung mencuri perhatian adalah Edwin, sosok guru yang diperankan dengan sepenuh jiwa oleh Morgan Oey.
Edwin adalah cerminan manusia biasa yang dipaksa menghadapi situasi luar biasa, dan dari sanalah pesan film ini bersinar terang.
Film karya Joko Anwar ini bukan cuma soal aksi mendebarkan atau ketegangan di sebuah sekolah yang penuh dengan murid bermasalah. Di balik semua itu, ada cerita tentang seorang guru pengganti yang sederhana, tapi punya hati sekuat baja.
Guru Biasa dengan Hati Luar Biasa
Edwin bukan pahlawan super. Ia bukan polisi, bukan tentara, apalagi orang kaya dengan koneksi luas. Ia cuma guru pengganti, orang yang biasanya dianggap remeh di dunia pendidikan.
Namun, di SMA Duri, sekolah yang lebih mirip penjara ketimbang tempat belajar, Edwin menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari otot atau senjata. Keberaniannya lahir dari hati—dari janji kepada kakaknya yang sudah meninggal untuk mencari keponakannya yang hilang.
Bayangkan, di tengah Jakarta tahun 2027 yang digambarkan porak-poranda, penuh diskriminasi dan kekerasan, Edwin tetap nekat masuk ke sekolah yang bahkan guru berpengalaman pun ogah mengajar di sana.
Ini bukan cuma soal nyali, melainkan juga soal tanggung jawab.
Karakter Edwin punya lapisan yang dalam. Ia keturunan Tionghoa dan, dalam film ini, identitasnya menjadi sumber bahaya.
Edwin tahu betul ia bisa jadi sasaran kebencian kapan saja. Tapi, ia tidak membiarkan ketakutan menguasainya.
Morgan Oey, dalam sebuah wawancara, bilang bahwa peran Edwin berat baginya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Instruksikan Pembangunan Sekolah Rakyat Dipercepat
Sebab, menurutnya, Edwin membawa trauma transgenerasional—luka dari masa lalu yang masih terasa, seperti kerusuhan 1998 yang jadi bayang-bayang dalam film ini.
Edwin tak cuma berjuang melawan murid-murid brutal seperti Jefri, yang diperankan dengan apik oleh Omara Esteghlal, tapi juga melawan ketakutan dalam dirinya sendiri.
Ia manusiawi. Takut, ragu, tapi tetap maju. Di sinilah kelebihan Edwin. Ia memang tokoh yang tidak sempurna, tapi ia nyata.
Edwin juga punya sisi idealis. Ia ingin mengajar, ingin membawa perubahan, meski di tempat yang sepertinya tidak lagi percaya pada pendidikan. Bersama Diana, rekan gurunya, Edwin mencoba menjaga bara harapan di tengah kekacauan.
Ada momen dalam film ini yang bikin kita berpikir: Kalau Edwin saja, yang cuma guru pengganti itu, bisa bertahan di tengah ancaman nyawa, apa alasan kita untuk menyerah pada masalah sehari-hari?
Edwin mengajarkan bahwa, kadang, yang dibutuhkan bukan cuma ilmu, melainkan juga hati yang tulus untuk peduli.
Baca Juga: Merdeka Gurunya, Bahagia Siswanya, Opini oleh Sujarwati
Pesan untuk Guru Sekolah Rakyat
Sekarang, mari kita beralih ke pesan film Pengepungan di Bukit Duri ini. Terutama, yang berkaitan dengan program Sekolah Rakyat yang diluncurkan oleh pemerintah pada pertengahan tahun ini.
Salah satu pesan terkuat adalah pentingnya sistem pendidikan dan peran guru.
Iya, guru, yang sering dipandang sebelah mata itu, ternyata bisa menjadi benteng moral terakhir di tengah kekacauan.
Edwin dan Diana adalah bukti bahwa guru bukan cuma pengajar, melainkan juga pelindung, pembimbing, dan bahkan penyelamat.
Film ini juga bicara soal persatuan. Di SMA Duri, kita melihat bagaimana kebencian rasial dan kekerasan antar-remaja bisa menghancurkan.
Namun, di sisi lain, juga ada harapan lewat Edwin yang memilih berdiri untuk kebenaran, bukan ikut arus kebencian.
Pesan ini relevan sekali buat kita sekarang. Di tengah dunia yang gampang terpolarisasi, Sekolah Rakyat membutuhkan guru-guru seperti Edwin yang memilih jalan susah demi kebaikan bersama.
Lalu, ada juga kritik halus soal tanggung jawab orang dewasa. Film ini bilang, jangan salahkan anak muda yang brutal kalau orang tua dan sistem pendidikan gagal memberi teladan.
Murid-murid seperti Jefri, meski sadis, sebenarnya juga korban—korban dari lingkungan yang penuh kebencian dan trauma.
Ini tamparan buat kita semua. Kalau ingin generasi mendatang lebih baik, perbaiki dulu sistemnya, mulai dari pendidikan sampai cara kita menghargai perbedaan.
Film ini bukan cuma soal kekerasan atau diskriminasi, melainkan juga soal apa yang terjadi kalau kita membiarkan luka masa lalu terus bercokol.
Film ini seperti cermin: menunjukkan wajah buruk masyarakat yang terpecah karena rasisme, ketidakadilan, dan sistem pendidikan yang amburadul.
Joko Anwar, lewat cerita ini, seolah berteriak: “Lihat, ini bisa terjadi kalau kita tidak belajar dari sejarah!”
Pengepungan di Bukit Duri adalah film yang berani. Yang tidak hanya berani membuka luka lama dan menunjukkan sisi gelap masyarakat, tapi juga berani memberi harapan.
Edwin, dengan segala keterbatasannya, adalah simbol harapan bahwa siapa pun bisa membuat perubahan, asal punya hati dan tekad.
Film ini mengajak kita untuk tidak cuma menonton, tapi juga bercermin: Sudahkah kita menghargai guru? Sudahkah kita belajar dari sejarah? Dan, yang terpenting, sudahkah kita berani berdiri untuk kebenaran, seperti Edwin?
Jadi, kalau ditanya, apa yang bikin film Pengepungan di Bukit Duri ini istimewa, jawabannya sederhana: Sosok bernama Edwin dan pesan yang dibawanya untuk para guru di Sekolah Rakyat.
Ia mengingatkan kita bahwa di tengah badai, selalu ada harapan—asal kita mau berjuang dan tetap membela kebenaran.(*)
*) Penulis adalah pengulas film, pemerhati teknologi digital, dan blogger asal Jember.
Editor : Sidkin