Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Komunikasi Strategi KHAS Media di Era Digital, Opini Oleh: Kun Wazis

Dwi Siswanto • Jumat, 18 Juli 2025 | 15:40 WIB

 

 

Kun Wasis
Kun Wasis

Era digital yang meniscayakan hiruk pikuk komunikasi berbasis media online atau media siber telah merubah perilaku manusia, dari offline menuju online.

Setiap sudut lini kehidupan tidak bisa dipisahkan media berjaringan internet. Perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) berbasis “maya” telah menggeser pola komunikasi manusia, termasuk perilaku pembaca media, yang dulu banyak berbasis media cetak, kini berubah menjadi media online.

Perubahan perilaku ini sudah diprediksi oleh MacLuhan (1960-an) melalui Teori Determinisme Teknologi yang menyatakan sebuah fase penciptaan TIK yang awalnya dibentuk oleh manusia, tetapi dalam perkembangan sosialnya giliran TIK-lah yang membentuk manusia.

Bahkan, manusia beribadah pun bisa dipengaruhi oleh “produk media digital” yang oleh Liitlejohn disebut dengan ritual media.

Sebagai produk komunikasi massa, media cetak di tanah air menghadapi situasi sulit.

Sebagian media massa cetak tidak mampu bertahan, hingga harus gulung tikar, karena pembaca cetak sudah beralih drastis menjadi pembaca online (online audience).

Industri media massa cetak pun akhirnya berpikir keras untuk menjawab berbagai tantangan konsumen yang “tidak menyukai” produk cetak agar tetap bertahan hidup (survival).

Salah satunya yang dikembangkan oleh industri media cetak yang mampu bertahan hingga saat ini bisa didekat dengan komunikasi strategi, yakni komunikasi media yang dilakukan dengan berbagai langkah-langkah taktis agar media cetak tidak ambruk dengan mempertahankan segmentasi pasarnya.

Menurut penulis, Komunikasi Strategi model KHAS, yakni Kolaborasi, Harmoni, Adaptasi, dan Sinergi bisa digunakan untuk membaca strategi yang diplih media cetak dalam bertahan di Era Digital saat ini.

 Baca Juga: Membangun Etika Komunikasi Politik yang Mencerdaskan, OPINI : Kun Wazis  

Strategi Kolaborasi, Harmoni, Adaptasi, dan Sinergi

Dalam hal ini, industri media massa cetak lokal yang masih bertahan hingga saat ini, diantaranya adalah Jawa Pos Radar Jember (16 Juli 1999-16 Juli 2025) dapat dilihat dari komunikasi strategi KHAS ini sebagai salah satu kasus.

Setidaknya, usia 26 tahun bisa menjadi salah satu inspirasi dalam ikut serta membangun industri media yang memiliki manfaat publik, diantaranya menyerap lapangan kerja di wilayah bisnisnya.

Pertama, komunikasi strategi kolaborasi merupakan strategi jaringan media di bawah grup Jawa Pos, yang saling memperkuat sesuai dengan wilayah edarnya. Misalnya, jaringan Radar Jember dengan wilayah edar di Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bondowoso membangun kolaborasi dengan Radar Banyuwangi yang jangkauannya di Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo.

Kolaborasi dalam produk iklan, berita, dan event ikut memperkuat posisi media di masing-masing wilayahnya, termasuk ketika saat ini masing-masing sudah menerapkan sistem online.

Kedua, komunikasi strategi harmoni dibangun dengan saling menjaga masing-masing “kekuasaan” wilayah pasar. Dalam konteks komunikasi bisnis, jaringan anak Perusahaan Jawa Pos dengan Radarnya diberikan otonomi seluas-luasnya untuk berkompetisi sengit dalam meningkatkan kekuatan pasarnya, baik dari sisi kualitas pemberitaan berita (divisi redaksi), bagian pemasaran (oplah cetak maupun media online),   marketing iklan, dan divisi event.

Persaingan diantara ratusan jaringan Radar Grup Jawa Pos ini mampu membangun harmoni, karena mereka dipetakan dalam batasan wilayah, sehingga para direktur memiliki beragam inovasi untuk menyajikan produk yang sesuai dengan selera pasar “lokal” yang menjadi kekuatan konsumen medianya.

Ketiga, komunikasi strategi adaptasi dipilih dengan melakukan konvergensi media, Dimana seluruh Radar Jember yang dulunya hanya berbasis pada produk media cetak, kini memperkuat dengan media massa online (website media) dengan platform yang menarik. Tidak hanya berhenti disini, Radar Jember juga memperkuat segmentasi pasarnya melalui media sosial, baik Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube dengan beragam konten yang menyasar pembaca online.

Adaptasi ini juga mampu mempertahankan pasar/konsumen/audience/pembaca yang dulunya bertahan di media cetak, kini dikelola melalui produk media. Audience bisa “dimanjakan” dengan beragam platform yang ditawarkan di media online, sehingga membuat mereka “betah” bertahan, meskipun banyak persaingan media. Dan, salah satu kekuatan bertahan media saat ini adalah tergantung kemampuan beradaptasi media terhadap kepentingan massa (konsumen).

Keempat,  komunikasi strategi sinergi dilakukan oleh media massa, termasuk Radar Jember menyajikan produk media yang bersinergi dengan kepentingan pihak luar, pemerintah, mitra swasta (stakeholder), organisasi masyarakat (baik organisasi keagamaan, organisasi sosial, dan beragam organisasi lain), organisasi politik, unsur legislatif, kekuatan yudikatif, LSM, dan beragam kekuatan lain yang menjadi mitra bertahan media.

Strategi sinergi seperti ini sebenarnya sejak lama disadari oleh para pengelola industri media, karena posisi bertahan hidupnya media sangat bergantung pada massa, yakni audience. Produk media berupa berita yang menarik akan meningkatkan kekuatan pembaca/audience. Meningkatnya pembaca akan mempengaruhi kekuatan pengiklan untuk memilih media sebagai media komunikasi produk mereka.  

 Baca Juga: Jualan Gantungan Kunci Jadi Pilihan Anak Muda, Ketua HIPKA: Harus Pintar Baca dan Tangkap Peluang di Sosmed

Kompetisi Memenangkan Persaingan Pasar Media

            Komunikasi strategi KHAS ini sejatinya digunakan oleh media massa dalam rangka bertahan di tengah-tengah kompetisi pasar media di era digital yang semakin sengit, sangat bergantung kepada kemampuan komunikator media, baik direktur, CEO, pemimpin redaksi, bagian pemasaran, divisi iklan, maupun bidang event dalam menjaring kekuatan pasar. Dalam konteks amanah UU Pers No. 40 Tahun 1999, media massa di tengah persaingan era digital, harus tetap bisa menjalankan fungsi informasi, fungsi edukasi, fungsi control sosial, fungsi hiburan, dan fungsi ekonomi.

            Strategi bertahan hidup (survival strategic) dengan model KHAS juga menjadi keniscayaan karena era digital menghendaki karakteristik konstruksi realitasi sosial yang serba cepat, berjaringan luas, berbasis internet, mudah/murah akses, dan fleksibilitas yang tinggi.

Untuk itu, sebagai institusi perubahan sosial, media massa memiliki tanggungjawab dalam menyajikan informasi yang sehat, mencerdaskan, melakukan kritik sosial, dan pemberitaan yang konstruktif, maka strategi KHAS perlu terus ditumbuhkan sesuai dengan kemampuan media massa dalam memahami dinamika persaingan industri media.

            Khusus untuk media massa Jawa Pos Radar Jember yang memasuki usia 26 tahun, tetap menjadi media yang independen, berpihak pada kebenaran, dan menjadi kekuatan perubahan sosial yang lebih baik. Selamat dan sukses selalu!

 

Penulis adalah Kapus Informasi Data & PMB LPM UIN KHAS Jember, Alumni Media Jawa Pos Radar Jember 1999-2009, dan Pengurus ICMI Orda Jember

 

Editor : Dwi Siswanto
#opini #uin khas #media #gulung tikar #khas #Radar Jember