“Banyak orang yang bersabar dan bangkit dari keterpurukan, setelah mereka menghadapi ujian kesempitan dan kemalangan. Namun, sedikit sekali orang yang banyak bersyukur ketika menghadapi ujian kemakmuran, hingga mereka terjerumus kembali ke jurang penderitaan.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)
SETELAH Perang Badar, Rasulullah mengkritik sikap sebagian sahabat yang cenderung mengalami eforia setelah meraih kemenangan. Beliau justru memberi pesan yang mendalam, bahwa kesuksesan sejati tidak diraih dengan membesarkan ego, melainkan dengan menyingkirkannya. Secara eksplisit, Rasulullah menyatakan, bahwa hakikat kemenangan dapat dicapai ketika manusia sanggup mengesampingkan ego dan hawa nafsunya.
Dengan sendirinya, Rasulullah mengungkap kata-kata bersayap, bahwa musuh terbesar dari pencapaian adalah ego dan keangkuhan itu sendiri. Ego membuat seseorang merasa lebih penting dari kenyataan, menolak masukan, dan pada akhirnya gagal melakukan muhasabah dan introspeksi-diri.
Dalam sepanjang sejarah, betapa banyak orang gagal bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena mereka terlalu sibuk bersaing dan menonjolkan diri. Padahal, orang yang sanggup menyingkirkan egonya, ia akan terbuka terhadap perbaikan, refleksi, dan strategi baru yang lebih efektif.
Setahun kemudian, setelah kemenangan Badar, sebagian sahabat tak mengindahkan peringatan Rasulullah. Serangan berikutnya dilancarkan kembali oleh pasukan musyrikin Qurays. Para pasukan pemanah di Bukit Uhud terprovokasi oleh iming-iming harta kekayaan (ghanimah) yang dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.
Meskipun pada awalnya memihak Rasulullah, anak-anak buah Abdullah bin Ubay tampaknya tidak berjuang atas dasar panggilan hati nurani, melainkan ingin mengeruk keuntungan dan harta rampasan yang berlebihan.
Dengan demikian, mereka tidak menyadari bahwa ego dan hawa nafsu telah menjadi penghalang kerja sama dan kolaborasi. Para pasukan pemanah tidak lagi mengindahkan keputusan yang ditentukan Rasulullah selaku atasannya. Mereka lebih mendahulukan ego, sehingga persepsi akan kemenangan telah didorong oleh keinginan untuk unggul sendiri, atau sekadar kontribusi bagi sub timnya.
Akhirnya, kepentingan komunitas yang lebih besar menjadi terabaikan. Padahal sejatinya, mereka harus menyadari, bahwa keberhasilan individual pun hanya mungkin diraih berkat kerja sama, empati, dan kerendahan hati.
Dengan menyingkirkan ego dan kepentingan skala kecil, seseorang tidak hanya menjadi pribadi yang tangguh, tetapi juga lebih ikhlas bekerja dan berjuang demi kemaslahatan umat.
Kelompok pimpinan Abdullah bin Ubay kemudian mendapat serangan balik di Bukit Uhud, karena mereka tidak memiliki ketahanan mental. Mereka tergiur untuk meraih kesuksesan cepat dan instan. Padahal, ketahanan mental jauh lebih penting dibandingkan keberhasilan sesaat.
Namun demikian, kekalahan Perang Uhud telah menorehkan hikmah dan pelajaran berharga, bahwa kehidupan manusia memang sarat dengan ujian dan cobaan. Adapun cara terbaik untuk menghadapinya, bukanlah berupaya meniadakan hambatan dan rintangan, tetapi kecakapan mental dan kualitas diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Artinya, manusia harus siap untuk menghadapi kemenangan dan kekalahan, kaya-miskin, sehat-sakit, bahkan di atas maupun di bawah.
Kita tidak mungkin memperpanjang waktu siang untuk menolak kegelapan malam, karena kodrat manusia dan alam semesta akan selalu dipergilirkan. Untuk itu, fokuslah pada hal-hal yang bisa dikendalikan dan tidak larut ke dalam persoalan yang di luar kendali kita.
“Beruntunglah orang yang kuat imannya,” tegas Rasulullah, “karena ia telah memiliki kesiapan mental untuk selalu tenang menghadapi berbagai kemungkinan. Ketika ia ditimpa kesusahan ia akan bersabar, dan sabar itu menjadi baik untuknya. Begitu pun ketika ia mendapat kelapangan ia akan bersyukur, dan syukur itu menjadi baik baginya.”
Prinsip yang diajarkan Rasulullah menjadi fondasi penting hingga mengantarkan umat Islam dalam peristiwa ending Fathu Makkah. Setelah terhimpun kekuatan mental, baik individual maupun komunal, maka legitimasi kekuasaan telah dipegang Rasulullah dan para pengikutnya. Mereka sanggup merespons segala sesuatu dengan ketenangan dan kebajikan.
Hal ini bertentangan dengan budaya hyper modern saat ini, di mana banyak manusia tergopoh-gopoh bahkan terobsesi pada kecepatan, serta kemenangan yang tidak fair dan elegan. Sementara, ketaatan kepada ulama dan umaro sangat minim, lantaran mereka tak memiliki otoritas yang mumpuni.
Lihatlah di belahan dunia manapun, kita menyaksikan orang-orang yang sibuk bersaing untuk mengejar pundi-pundi kesuksesan secepat mungkin. Entah lewat bisnis, karier, bahkan jabatan kekuasaan sekalipun. Kebanyakan mereka tak menyadari, bahwa pola pikir itu sangat berbahaya karena dapat membuat mereka limbung saat menghadapi cobaan dan rintangan yang menghadang.
Padahal, setiap kesuksesan yang dibangun berdasarkan kecepatan, akan mudah mengalami kick balik yang kelak mencelakakan dirinya. Tetapi, mereka yang membangun fondasi dengan ketahanan mental, tentu akan lebih siap menghadapi berbagai rintangan, baik yang berjangka pendek maupun panjang.
Dalam kemenangan Fathu Makkah pada tahun ke-8 Hijriyah (630 Masehi) Rasulullah memberi teladan, bahwa setiap hambatan justru bisa menjadi peluang menuju kekuatan baru yang lebih mencerahkan.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran spiritualitas manapun yang mengutamakan kekuatan “sabar” dan “syukur”. Bagi para sahabat Nabi, segala penderitaan dan tantangan adalah bagian alami dari kehidupan, dan justru dari sanalah ketangguhan mental telah ditempa dengan baik.
Pola pikir yang universal ini, sangat relevan dengan kehidupan para pengusaha dan pebisnis sukses, yang dapat bangkit setelah mengalami kegagalan, serta menjadikannya sebagai hikmah dan pelajaran. Mereka tidak akan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk menyerah. Mereka terampil menjadikan kesabaran dan ketenangan sebagai kekuatan sejati, bukan sebagai kelemahan dan kepasrahan pada keadaan.
Dengan kepala dingin, seseorang bisa mengambil keputusan yang lebih tepat dan tidak terjebak dalam arus emosi sesaat. Mereka menyadari, bahwa kehidupan adalah rangkaian ujian, dan dengan menjaga pikiran tenang, manusia akan sanggup melewatinya dengan bijak.
Kembali kepada fase perjalanan hidup Rasulullah dan para sahabat, dari kemenangan Badar, kekalahan Uhud, kemudian bangkit memenangkan berbagai strategi perang hingga mencapai kemerdekaan Fathu Makkah.
Pengalaman ini telah menempa prinsip hidup yang bermakna bagi para sahabat dan pengikutnya. Dan itu, lagi-lagi, tidak diukur dari seberapa cepat seseorang (atau komunitas) mencapai target keberhasilan. Tetapi, bagaimana mereka dibawa dan diarahkan agar sanggup memberi kontribusi, bahkan dapat hidup sabar dan tegar di tengah badai prahara yang menghadang.
Untuk itu, ketahanan mental manusia Indonesia adalah investasi jangka panjang yang lebih berharga dibanding pencapaian instan. Hidup bangsa ini akan bermartabat jika mampu mengendalikan egonya, menghargai proses, dan tetap rendah hati meski sudah meraih banyak hal.
Peristiwa kemenangan Fathu Makkah yang dipelopori oleh Rasulullah, serta dihadapi dengan kerendahan-hati, tetap valid dan relevan bagi generasi milenial yang hidup dalam arus keangkuhan digitalisasi.
Media sosial selalu mendorong kecenderungan agar pamer kesuksesan secepat mungkin, namun lupa membangun ketangguhan mental. Dengan kekuatan sabar dan syukur, generasi milenial akan sanggup menyeimbangkan ambisi dengan ketenangan batin. Mereka diajak untuk lebih fokus pada proses, bukan sekadar hasil cepat yang belum tentu bertahan lama.
Memang, kesuksesan cepat bisa diraih oleh siapa saja. Tetapi, hanya mereka yang memiliki kekuatan mental yang mampu menjaga pencapaiannya agar tetap kokoh dalam jangka panjang.
Untuk itu, teladan hidup Rasulullah mengingatkan kita, bahwa kehidupan bukanlah persaingan untuk menjadi yang tercepat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan ketangguhan, kesabaran, dan rasa syukur, sampai pada akhirnya keadilan sosial dapat terwujud dengan baik.
*) Penulis adalah peneliti dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menulis esai dan prosa di berbagai media luring, daring, dan jurnal kampus.
Editor : Sidkin