Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

SATU ABAD NU: Refleksi dan Tantangan, Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus RMI NU Jawa Timur

Sidkin • Rabu, 4 Februari 2026 | 08:00 WIB
Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus Rabithah Ma
Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus Rabithah Ma

MENAPAKI usia satu abad sejak berdiri pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama (NU) telah menorehkan kiprah penting dalam sejarah keagamaan, sosial, dan politik Indonesia. Organisasi ini menjadi pelopor pendidikan Islam berbasis pesantren, sekaligus menjaga moderasi dan toleransi di tengah keberagaman bangsa.

Tema Harlah 1 Abad NU Masehi, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, mencerminkan cita-cita luhur NU untuk terus berkontribusi membangun peradaban bangsa yang bermartabat dan inklusif.

Seabad perjalanan menjadi saksi keteguhan NU dalam menegakkan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat. Namun, perjalanan panjang NU juga menyisakan tantangan yang perlu diperhatikan agar relevansi dan efektivitasnya tetap terjaga di era modern.

Salah satu tantangan utama adalah modernisasi dan adaptasi digital dalam pendidikan dan dakwah. NU memiliki jaringan pesantren dan lembaga pendidikan yang luas, tetapi pemanfaatan teknologi digital masih belum merata.

Banyak pesantren belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran, literasi agama, maupun publikasi riset keagamaan. Transformasi digital menjadi penting agar generasi muda yang akrab dengan media dan informasi global tetap terhubung dengan nilai-nilai keislaman NU.

Selain itu, konsistensi dalam penguatan moderasi beragama juga menjadi perhatian penting. Meskipun NU dikenal sebagai pelopor Islam moderat, perbedaan interpretasi dan praktik keagamaan di beberapa wilayah masih menimbulkan gesekan sosial.

NU perlu memperkuat peran sebagai mediator konflik melalui program literasi keagamaan dan dialog lintas komunitas yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Moderasi bukan sekadar prinsip organisasi, tetapi harus menjadi praktik nyata yang dirasakan masyarakat.

Tantangan lain adalah pemberdayaan ekonomi umat. NU memiliki banyak lembaga sosial dan ekonomi, termasuk koperasi pesantren dan program zakat, namun integrasi antara pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan dakwah belum selalu optimal.

Program ekonomi harus mampu mendorong kemandirian umat secara berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sosial temporer.

Kompleksitas manajerial NU juga menuntut perhatian serius. Regenerasi kepemimpinan, profesionalisasi pengelolaan lembaga, dan transparansi dalam pengambilan keputusan strategis menjadi kunci agar organisasi tetap adaptif dan inovatif menghadapi tantangan zaman.

Di tingkat internasional, NU dapat memperluas jejaring melalui penelitian ilmiah, pertukaran akademik, serta advokasi isu global seperti perubahan iklim, perdamaian, dan keadilan sosial. Hal ini penting agar kiprah NU tidak hanya relevan secara nasional, tetapi juga di panggung dunia.

Secara kultural, NU menghadapi tantangan dalam menjaga identitas pesantren dan tradisi keagamaan di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial. Generasi muda yang terbiasa dengan gaya hidup modern dan informasi digital kadang sulit menginternalisasi nilai-nilai tradisional pesantren secara mendalam, sehingga perlu strategi komunikasi dan pembelajaran yang relevan.

Secara struktural, NU juga menghadapi tantangan dalam manajemen organisasi yang kompleks, terutama dalam koordinasi antara cabang, wilayah, dan lembaga otonom. Ketimpangan kapasitas sumber daya manusia, perbedaan standar pengelolaan, serta birokrasi internal dapat mempengaruhi efektivitas program dan pengambilan keputusan strategis.

Selain itu, tantangan kultural dan struktural saling terkait dalam proses regenerasi kepemimpinan. Memastikan kaderisasi yang mampu memahami tradisi NU sekaligus adaptif terhadap tuntutan modernitas menjadi kunci agar organisasi tetap hidup, inovatif, dan mampu menjawab dinamika sosial-keagamaan di masyarakat luas.

Refleksi kritis ini bukan untuk mengecilkan capaian NU, melainkan mendorong inovasi agar NU terus menjadi garda terdepan dalam membangun peradaban mulia. Masa depan NU akan ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi dengan tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai Islam moderat yang telah menjadi ciri khasnya. (*)

 

*) Penulis adalah Pengurus RMI NU Jawa Timur & Dosen Pascasarjana Institut Agama Islam (IAI) At Taqwa Bondowoso.

Editor : Sidkin
#nu #pemberdayaan ekonomi #islam moderat #nahdlatul ulama #Seabad NU #Satu Abad NU #kiprah nu