YANG namanya permainan sepak bola itu kadang seperti hidup. Banyak harapan, banyak drama, dan tak jarang banyak kekecewaan. Italia dan Indonesia, dua negara yang secara tradisi, sejarah, dan kualitas sepak bolanya berbeda jauh, ternyata punya beberapa persamaan menarik. Bukan hanya soal sama-sama gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Melainkan juga ada benang merah lain yang, kalau dipikir-pikir, terasa cukup “dekat”.
Saya jadi teringat obrolan santai dengan seorang teman. Ia tidak bisa lepas dari tim nasional (timnas) Indonesia. Sementara saya, tentu saja, penggemar berat sepak bola Italia sejak era 1990-an. Kami sama-sama mengeluh. Nada keluhannya pun mirip. Bedanya hanya pada level ekspektasi.
Italia, dulu, adalah raksasa sepak bola. Juara dunia empat kali. Nama-nama besar lahir dari sana: Roberto Baggio, Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, Fabio Cannavaro, Francesco Totti, Gianluigi Buffon, Andrea Pirlo, sampai generasi baru seperti Marco Verratti, Federico Chiesa, dan Gianluigi Donnarumma. Indonesia? Jangan dibandingkan. Kita lebih sering menjadi penonton. Namun, anehnya, rasa frustrasinya, kok, serupa?
Persamaan pertama: Romantisme masa lalu. Italia hidup dari bayang-bayang kejayaan lama. Tahun 2006 menjadi puncak terakhir mereka di Piala Dunia. Setelah itu? Terjun bebas. Bahkan tiga kali berturut-turut gagal ke Piala Dunia sampai tahun 2026 ini. Setiap kali gagal, orang Italia selalu bilang: “Kita ini negara besar.” Kalimat itu seperti mantra penghibur.
Indonesia juga begitu. Kita sering mengulang cerita medali emas SEA Games 1991, atau masa ketika tim nasional sepak bola kita disegani di Asia Tenggara. Padahal yang namanya waktu tidak berjalan mundur. Namun, kita masih sering melihat ke belakang, bukan ke depan.
Persamaan kedua: Terlalu banyak drama di luar lapangan sepak bola. Di Italia, konflik antarklub, mafia sepak bola, hingga skandal pengaturan skor pernah menjadi bagian dari sejarah. Calciopoli adalah contoh yang paling terkenal. Bahkan, sampai sekarang, aroma politik di federasi sepak bola Italia masih terasa.
Indonesia? Jangan ditanya. Kisruh di federasi, dualisme liga, konflik kepentingan, sampai drama pemilihan ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kadang semua itu terasa lebih seru daripada pertandingan sepak bolanya itu sendiri. Energi yang seharusnya dipakai untuk membangun sepak bola nasional justru habis untuk bertengkar.
Persamaan ketiga: Pelatih sepak bola sering menjadi kambing hitam. Setiap kali timnas sepak bola gagal, siapa yang pertama disalahkan? Pelatih. Di Italia, pergantian pelatih timnas sepak bola sudah seperti rutinitas. Gagal sedikit, langsung diganti. Tak peduli rekam jejak sebelumnya. Seolah-olah masalah selesai hanya dengan mengganti orang di pinggir lapangan.
Indonesia juga begitu. Pelatih datang dengan harapan besar, pulang dengan beban kekecewaan. Kadang, belum sempat membangun sistem, sudah harus angkat koper. Padahal sepak bola itu bukan sulap. Tidak bisa instan.
Persamaan keempat: Suporter sepak bola yang luar biasa emosional. Soal cinta sepak bola, Italia dan Indonesia sama-sama juaranya. Suporter Italia terkenal fanatik. Mereka bisa memuja setinggi langit, tapi juga mencaci habis-habisan saat tim mereka kalah. Emosi mereka tidak pernah setengah-setengah.
Indonesia? Lebih dahsyat lagi. Stadion penuh, nyanyian menggema, dukungan tanpa henti. Namun, di balik semua itu, ekspektasinya juga tinggi. Kadang terlalu tinggi untuk kondisi tim sepak bola yang ada. Cinta yang besar ini sebenarnya modal. Namun, kalau tidak diimbangi dengan realitas, justru menjadi tekanan.
Persamaan kelima: Masalah regenerasi pemain sepak bola. Italia pernah mempunyai lini belakang terbaik di dunia. Sekarang? Tidak semudah dulu menemukan pemain sepak bola kelas dunia di setiap posisi. Regenerasi terasa lambat dan tersendat.
Indonesia juga serupa, meski dalam konteks berbeda. Kita sering bergantung pada segelintir pemain. Begitu mereka tidak tampil, permainan timnas langsung goyah. Pembinaan sepak bola usia muda belum benar-benar konsisten.
Persamaan keenam: Ekspektasi yang tidak selalu realistis. Italia masih merasa diri mereka elite di dunia sepak bola. Padahal persaingan sudah berubah. Negara-negara lain berkembang pesat. Sistem permainan sepak bola juga berevolusi.
Sama dengan Indonesia. Sering bermimpi terlalu tinggi tanpa fondasi yang kuat. Ingin cepat masuk level elite sepak bola Asia, padahal liga domestik saja belum stabil sepenuhnya. Yang namanya mimpi itu memang penting, Ferguso. Namun, mimpi tanpa peta jalan hanya akan menjadi angan-angan.
Persamaan ketujuh: Harapan yang tidak pernah mati. Ini mungkin yang paling indah. Meski berkali-kali gagal, Italia tetap percaya bakal bangkit. Mereka selalu yakin akan menemukan generasi baru yang bisa mengembalikan kejayaan Gli Azzurri di dunia sepak bola. Indonesia juga begitu. Setiap turnamen, harapan selalu muncul lagi. Setiap pemain muda yang bersinar langsung dianggap sebagai “penyelamat” sepak bola nasional.
Kadang kita tahu harapan tersebut terlalu optimistis. Namun, kita tetap percaya. Karena, tanpa harapan, sepak bola bakal kehilangan maknanya. Saya jadi berpikir, mungkin perbedaan terbesar antara Italia dan Indonesia bukan pada masalahnya, melainkan pada titik awalnya. Italia jatuh dari ketinggian. Sedangkan Indonesia masih berusaha naik dari bawah.
Namun, anehnya, rasa sakitnya, kok, bisa sama? Karena yang namanya kekalahan itu tetap menyakitkan, entah bagi tim juara dunia atau tim yang sedang berkembang. Ekspektasi yang tidak terpenuhi selalu meninggalkan ruang kosong. Sakitnya, tuh, di sini.
Lalu, apa yang bisa kita pelajari? Mungkin, ini saatnya berhenti terlalu sering melihat ke belakang. Baik Italia maupun Indonesia perlu lebih fokus pada pembangunan sistem jangka panjang. Bukan sekadar reaksi jangka pendek.
Yang namanya sepak bola modern itu butuh sistem. Butuh konsistensi. Butuh kesabaran. Hal-hal yang seringkali sulit dilakukan, apalagi ketika tekanan datang dari mana-mana.
Italia punya infrastruktur dan tradisi sepak bola. Indonesia punya semangat dan basis suporter yang luar biasa. Kalau dua hal ini bisa dikelola dengan baik, sebenarnya peluang untuk bangkit selalu ada. Pada akhirnya, yang namanya sepak bola itu bukan hanya soal menang atau kalah. Melainkan juga soal perjalanan. Soal bagaimana sebuah tim nasional, sebuah negara, belajar dari kegagalan.
Sepak bola Italia dan Indonesia, dengan segala perbedaannya, ternyata berjalan di jalur yang mirip: Sama-sama mencari jati diri di tengah perubahan zaman. Dan, mungkin, justru dari kegagalan inilah cerita besar berikutnya akan dimulai. Semoga.
*) Penulis adalah Penggemar Sepak Bola, Content Writer, Blogger asal Jember.
Editor : Sidkin