Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tiga Pilar Besar NU: Menjaga atau Meruntuhkan Jam’iyah?, Opini oleh Saifullah, Kaprodi HKI IAI Darul Falah Bondowoso

Sidkin • Selasa, 26 Mei 2026 | 07:00 WIB
Saifullah, Kaprodi HKI IAI Darul Falah Bondowoso
Saifullah, Kaprodi HKI IAI Darul Falah Bondowoso

 

NAHDLATUL Ulama tak pernah dibangun hanya sebagai organisasi keagamaan formal. Ia lahir sebagai gerakan peradaban yang memadukan spiritualitas, intelektualitas, kebangsaan, dan kemandirian ekonomi umat. Karena itu, para muassis NU merancang fondasi jam’iyah ini di atas tiga pilar besar: Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Taswirul Afkar.

Tiga pilar tersebut bukanlah unsur yang saling bersaing, apalagi saling menegasikan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang dirancang untuk saling menopang dan menjaga keseimbangan arah perjuangan jam’iyah. Nahdlatul Wathan menjaga orientasi kebangsaan dan tanggung jawab sosial. Taswirul Afkar menjaga kejernihan intelektual dan kedalaman pemikiran Islam. Sedangkan Nahdlatut Tujjar menopang kemandirian ekonomi umat agar jam’iyah tidak mudah tunduk pada kekuatan eksternal.

Di tangan para pendiri NU, tiga pilar ini berjalan dalam satu irama moral dan spiritual. Karena itu NU dahulu tidak hanya besar secara organisasi, tetapi juga dihormati sebagai rumah moral dan spiritual umat. Namun pertanyaan penting hari ini adalah: apakah ketiga pilar itu masih berjalan beriringan? Ataukah salah satunya justru mulai mendominasi dan perlahan mengguncang keseimbangan jam’iyah?

Ketika Nahdlatut Tujjar Menjadi Terlalu Dominan

Dalam perkembangan modern, aspek ekonomi dan jejaring kekuasaan tampak semakin dominan dalam ruang gerak sebagian elit Nahdlatul Ulama. Semangat Nahdlatut Tujjar yang dahulu dirancang untuk membangun kemandirian umat, perlahan dalam beberapa konteks terlihat bergeser menjadi orientasi pragmatis dan politis.

Di titik inilah kegelisahan publik mulai muncul. Ketika ruang ekonomi terlalu dominan tanpa pengawasan moral dan intelektual yang kuat, maka jam’iyah berpotensi kehilangan ruh pengabdiannya. Polemik tambang yang menyeret nama PBNU beberapa waktu lalu menjadi contoh bagaimana masyarakat mulai mempertanyakan arah moral organisasi. 

Terlepas dari argumentasi legal maupun administratif yang dibangun, polemik tersebut telah menimbulkan luka persepsi di tengah umat. NU yang selama ini dipandang sebagai rumah moral bangsa mendadak berada dalam pusaran kontroversi kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Padahal para pendiri NU dahulu memahami bahwa ekonomi hanyalah alat perjuangan, bukan tujuan utama perjuangan.

Yang lebih mengkhawatirkan sesungguhnya bukan sekadar keterlibatan NU dalam urusan ekonomi atau politik, sebab keduanya tetap dibutuhkan dalam perjuangan umat. Yang berbahaya adalah ketika warga Nahdliyin mulai sulit membedakan: mana perjuangan jam’iyah dan mana kepentingan elite; mana khidmah dan mana transaksi pengaruh; mana keputusan strategis untuk umat dan mana sekadar kompromi kekuasaan.

Pada titik itu, NU perlahan dapat kehilangan otoritas moralnya di mata masyarakat. Sebab umat mungkin masih tetap datang ke acara-acara NU, tetap membaca tahlil dan salawat, tetapi di dalam batinnya mulai tumbuh pertanyaan yang jauh lebih tajam: “Apakah rumah besar ini masih sepenuhnya dijaga oleh para Muassis dan khadim umat, atau perlahan telah dipenuhi oleh para pemburu kepentingan?”

Pertanyaan semacam inilah yang sesungguhnya paling berbahaya bagi masa depan Nahdlatul Ulama, karena sebuah jam’iyah besar tidak runtuh ketika dikritik dari luar, tetapi ketika kepercayaan moral umat mulai retak dari dalam.

Taswirul Afkar Dan Krisis Intelektualisme Jam’iyah

Selain problem ekonomi dan kekuasaan, tantangan besar NU hari ini juga terletak pada melemahnya tradisi Taswirul Afkar sebagai gerakan intelektual dan pembentukan kesadaran kritis umat. Di masa lalu, NU dibangun di atas tradisi berpikir mendalam.

Pesantren bukan hanya tempat belajar hukum agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, kebijaksanaan sosial, dan kesadaran peradaban. Para kiai tidak sekadar menjadi pengelola organisasi, tetapi penjaga moral umat.

Namun di era digital, ruang intelektual sering kalah oleh budaya pencitraan dan popularitas. Akibatnya, sebagian masyarakat mulai kehilangan orientasi moral. NU tetap besar secara struktur, tetapi perlahan mengalami krisis keteladanan. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali Taswirul Afkar. Sebab organisasi sebesar NU tidak cukup hanya dikelola dengan administrasi dan kekuatan jaringan, tetapi harus terus dirawat dengan kedalaman pemikiran dan kebijaksanaan spiritual.

Nahdlatul Wathan Dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Pilar ketiga yang sering terlupakan adalah Nahdlatul Wathan kesadaran kebangsaan yang dahulu menjadi ruh perjuangan para muassis NU. Bagi pendiri NU, menjaga bangsa bukan hanya tugas politik, tetapi bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan. Karena itu, NU sejak awal hadir sebagai kekuatan perekat sosial yang menjaga harmoni masyarakat Indonesia.

Namun tantangan zaman modern membuat nasionalisme sering bercampur dengan pragmatisme politik. Di sinilah NU menghadapi ujian besar: apakah tetap menjadi penjaga moral bangsa, atau justru ikut tenggelam dalam pusaran kepentingan kekuasaan jangka pendek?

Sebab jika tiga pilar besar jam’iyah berjalan sendiri-sendiri, maka yang lahir bukan harmoni peradaban, melainkan benturan kepentingan. Ekonomi tanpa moral akan melahirkan pragmatisme. Intelektualitas tanpa spiritualitas akan melahirkan elitisme. Nasionalisme tanpa adab akan kehilangan arah kebangsaan.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika nasionalisme di dalam tubuh Nahdlatul Ulama tidak lagi dimaknai sebagai pengabdian moral kepada bangsa, tetapi perlahan direduksi menjadi kedekatan dengan pusat kekuasaan. Jika NU terlalu larut dalam pragmatisme politik, maka ada bahaya besar yang mengintai: NU mungkin tetap dekat dengan penguasa, tetapi perlahan menjauh dari suara batin umat kecil yang selama ini menjadikan jam’iyah ini sebagai tempat berlindung moral.

Dan ketika organisasi keagamaan mulai lebih sibuk menjaga relasi kekuasaan daripada menjaga nurani masyarakat, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya arah politik jam’iyah, tetapi juga martabat spiritualnya di hadapan sejarah.

Siapa yang Pantas Menjadi Penjaga Rumah Moral Ini?

Yang paling mengkhawatirkan hari ini bukanlah perbedaan pandangan di tubuh Nahdlatul Ulama, melainkan munculnya ambisi yang melebihi semangat khidmah. Rumah besar NU sesungguhnya tidak membutuhkan orang yang sekadar pandai berpolitik, piawai membangun jaringan, atau kuat secara finansial. NU membutuhkan penjaga moral orang-orang yang mampu menahan dirinya dari kerakusan kekuasaan dan kepentingan pribadi

Kalimat ini seperti menjadi alarm spiritual bagi siapa pun yang hari ini berada di dalam rumah besar NU. Karena itu, tidak semua orang pantas menjadi penjaga jam’iyah. Rumah moral bangsa ini membutuhkan: ulama yang menjaga adab sebelum jabatan, pengurus yang mendahulukan khidmah daripada ambisi, kader yang memahami bahwa NU bukan kendaraan kekuasaan, dan pemimpin yang sadar bahwa kehormatan jam’iyah lebih penting daripada keuntungan sesaat.

Menjaga NU Tetap Menjadi Rumah Teduh Umat

Kekuatan sejati Nahdlatul Ulama bukan terletak pada besarnya struktur organisasi atau luasnya pengaruh politik, melainkan pada kemampuannya menjadi rumah spiritual, rumah moral, dan tempat berteduh umat. Karena itu, masa depan NU sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen jam’iyah untuk kembali menyatukan tiga pilar besar yang dahulu menjadi fondasi perjuangan: Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Taswirul Afkar.

Jika ketiganya berjalan bersama dalam keseimbangan moral dan spiritual, maka NU akan tetap menjadi cahaya kebangsaan dan penjaga peradaban Islam Nusantara. Namun jika salah satunya berjalan sendiri sambil menyingkirkan yang lain, maka bukan hanya marwah jam’iyah yang dipertaruhkan, tetapi juga kepercayaan umat yang sejak dahulu menjadikan NU sebagai rumah teduh kehidupan beragama di Indonesia akan runtuh.

 

*) Penulis adalah Kaprodi HKI IAI Darul Falah Bondowoso dan sedang menempuh studi S-3 Prodi Studi Islam UNUJA Paiton Probolinggo.

Editor : Sidkin
#Opini Radar Jember #Jami'iyah #berita NU #pilar #nu