DEWASA ini, pendidikan karakter tampaknya banyak disorot seiring munculnya kasus kekerasan, perundungan, hingga pelecehan di lingkungan sekolah. Jika ditambah dengan akses yang serba terbuka di era globalisasi, maka semakin besar tantangan pendidikan karakter dalam membentuk generasi penerus bangsa dengan karakter yang kuat dan tidak mudah terjerumus.
Pendidikan karakter tidak hanya berfungsi membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, berakhlak mulia, dan berintegritas, tetapi juga menjadi fondasi moral. Seseorang dengan karakter yang baik akan mampu menghadapi tantangan global yang hadir dan menghindarkan diri dari hal-hal negatif, seperti kenakalan remaja.
Dilihat dari Rencana Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025—2045, penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu misi pembangunan nasional, yakni mencapai pendidikan berkualitas yang merata. Dalam RPJPN juga disebutkan bahwa tujuan mulia pendidikan karakter ialah untuk membangun manusia Indonesia yang bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menunjukkan upaya pemerintah menanamkan nilai-nilai, seperti religiositas, kemandirian, nasionalisme, dan gotong royong pada peserta didik.
Namun, dalam penerapannya muncul tantangan baru; pendekatan yang instruktif dan normatif yang digunakan tidak selalu tepat dan diterima peserta didik. Menjelaskan dan mengajarkan karakter baik dengan pendekatan instruktif dan normatif yang berfokus pada ‘apa yang harus dilakukan’ secara konsep sebaliknya dapat membuat peserta didik merasa didikte. Hal tersebut tidak selaras dengan konsep pendidikan karakter yang sejatinya menitikberatkan pada pembiasaan dan keteladanan, bukan sekadar teori.
Pada titik inilah peran pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam menyampaikan nilai secara kontekstual dan menyentuh emosional peserta didik diperlukan. Peran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam pendidikan karakter saya rasakan langsung saat mengajar.
Pengalaman saya mengajar tiga murid tingkat sekolah dasar menunjukkan bahwa teks sastra mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan secara alami tanpa kesan menggurui. Cerita dongeng, cerita pendek, dan fabel dalam buku paket Bahasa Indonesia mampu menjadi media menanamkan budi pekerti yang efektif dan bermakna.
Beberapa waktu lalu, salah seorang murid les saya yang duduk di kelas 2 SD bercerita bahwa ia memiliki mainan impian yang ingin dibeli dan harganya mahal sekali. Belum sempat saya menanggapi, ia melanjutkan dengan wajah berseri kalau untuk membeli mainan impian itu, ia rutin menyisihkan uang saku untuk ditabung. “Nanti kalau uangnya udah banyak, baru deh beli mainannya. Itu, kayak Labih dan Arai,” lanjutnya.
Melalui percakapan singkat itu, tampak bahwa saat membaca suatu cerita, peserta didik tidak hanya memahami isi, tetapi juga menyerap nilai-nilai yang diajarkan di dalamnya. Dalam konteks cerita “Labih dan Arai”, nilai-nilai kehidupan bukan disampaikan dalam dialog panjang, melainkan direpresentasikan melalui karakter tokoh utama.
Melalui hal itu, lebih mudah bagi peserta didik untuk meniru perilaku tersebut. Dengan demikian, proses peneladanan karakter baik tokoh tidak terjadi melalui paksaan atau instruksi langsung, tetapi keterlibatan emosional peserta didik terhadap cerita.
Dalam pembelajaran sastra, tokoh-tokoh cerita menjadi role model bagi peserta didik karena menunjukkan perilaku konkret dan mudah dipahami. Ketika peserta didik sudah menyukai cerita atau khususnya tokoh tertentu, mereka cenderung mengidentifikasikan diri dengan tokoh tersebut dan meniru sikapnya. Proses alami tersebut membuat penanaman nilai-nilai karakter lebih melekat. Jika melihat dari sudut pandang yang lebih luas, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mendukung pendekatan holistik dalam pendidikan karakter.
Peserta didik tidak hanya diajak untuk memahami nilai secara kognitif, tetapi juga merasakan cerita secara emosional. Dengan kata lain, peserta didik diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan reflektifnya. Selebihnya, peserta didik dapat diajak untuk berpikir kritis tentang nilai-nilai yang muncul melalui kegiatan diskusi.
Beberapa pertanyaan yang bisa dimunculkan untuk memantik peserta didik antara lain (1) “Mengapa tokoh melakukan hal tersebut?”, (2) “Mengapa hal itu perlu dilakukan?”, (3) “Apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisi tokoh?”, dan (4) “Apa manfaat yang diperoleh dari tindakan itu?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga dapat dikembangkan dengan mengaitkan teks dan kehidupan nyata yang relevan dengan pengalaman peserta didik.
Namun dalam praktiknya, strategi pembelajaran dan pemilihan teks tetap menjadi dua hal yang menentukan keberhasilan penanaman karakter baik pada peserta didik. Teks yang dipilih bukan hanya yang menarik, melainkan relevan dengan dunia peserta didik, baik dari segi tema, bahasa, maupun konflik yang disajikan. Selain itu, kompetensi atau jenjang membaca peserta didik juga harus dipertimbangkan dalam memilih teks.
ntuk peserta didik kelas 2 dan 3 SD yang berada pada jenjang awal, teks yang dapat diberikan ialah yang teks sederhana dengan paragraf-paragraf pendek dan sedikit ilustrasi. Untuk peserta didik kelas 4 hingga 6 SD, bisa diberikan teks yang lebih panjang.
Sementara untuk peserta didik SMP dan SMA yang merupakan pembaca lanjut mulai diperkenalkan dengan teks kompleks. Oleh karena itu, penyajian teks yang tidak sesuai dan jauh dari peserta didik akan cenderung sulit dipahami dan kurang memberikan dampak emosional. Selanjutnya, guru dapat merancang pendekatan pembelajaran sedemikian rupa supaya peserta didik tidak hanya menjadi pembaca pasif.
Guru dapat melibatkan peserta didik dalam memperkuat pengalaman melalui kegiatan bermain peran atau menulis ulang cerita dengan versi mereka sendiri. Dengan kegiatan itu, peserta didik akan terlibat secara aktif dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Peserta didik yang meniru perilaku dan karakter baik tokoh cerita menjadi bukti konkret bagaimana pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dapat berdampak langsung pada perilaku peserta didik. Sebuah pencapaian yang penting dalam konteks pendidikan karakter.
Proses penyerapan nilai-nilai kehidupan secara alami dan menyenangkan akan membentuk kepribadian peserta didik menjadi lebih baik. Dalam hal ini, penting bagi guru untuk dapat memanfaatkan potensi pembelajaran bahasa dan Sastra Indonesia sebagai wahana pembentukan karakter yang efektif dan berkelanjutan secara optimal.
*) Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung.
Editor : Sidkin