Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Kecerdasan Anak? Opini oleh Nahdliya Izzatul Mutammimah, Mahasiswa Pascasarjana  Universitas Lampung

Sidkin • Jumat, 5 Juni 2026 | 07:00 WIB

 

Nahdliya Izzatul Mutammimah, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Lampung
Nahdliya Izzatul Mutammimah, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Lampung

 

KECERDASAN seorang anak dibentuk oleh keterlibatan aktif dan pola asuh ayah di dalam keluarga. Premis ini belakangan kerap digaungkan di berbagai seminar pola asuh (parenting) dan ruang-ruang diskusi akademik. Namun, narasi yang terdengar sangat ideal tersebut sering kali berubah menjadi standar moral yang menghakimi realitas sosial di masyarakat yang tidak pernah sesederhana teori di atas kertas.

Bagaimana jika kenyataan hidup berkata lain? Bagaimana nasib perkembangan kognitif seorang anak jika mereka harus tumbuh sebagai anak yatim, menjalani hubungan jarak jauh (long-distance parenting) dengan sang ayah karena tuntutan ekonomi, memiliki ayah yang bekerja shift malam sehingga minim interaksi, atau berada di tengah badai perceraian orang tua? Munculnya figur-figur hebat, cerdas, dan berkarakter luhur dari latar belakang keluarga yang tidak lengkap (single-parent) secara empiris memicu sebuah pertanyaan besar: Apakah teori-teori mapan yang mengagungkan urgensi peran ayah itu sebenarnya sudah terbantahkan oleh realitas zaman?

Secara ilmiah, klaim mengenai krusialnya peran seorang ayah dalam menstimulasi kecerdasan anak tidak sepenuhnya salah dan belum terbantahkan. Namun, sains juga menegaskan bahwa variabel tersebut tidak bersifat deterministik atau harga mati yang mutlak. Penelitian yang dilakukan oleh Merta Verani dan kawan-kawan dalam Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini (2022) menunjukkan bahwa indeks keterlibatan ayah yang tinggi secara signifikan mampu mendongkrak kecerdasan interpersonal anak secara linier. Bahkan, V. Sethna dalam studi longitudinalnya di Journal of Child Psychology and Psychiatry (2017) menekankan temuan yang lebih mikro: interaksi yang berkualitas antara ayah dan bayi sejak usia tiga bulan sudah mampu memprediksi kekuatan kemampuan kognitif anak tersebut di masa depan.

Namun, jika kita memperluas cakrawala pandang melalui lensa makro, data global dari OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) melalui berbagai laporan PISA, serta studi sosiologis dari Wen Liu yang diterbitkan dalam Chinese Journal of Sociology (2024), memberikan perspektif kontekstual yang sangat krusial. Struktur formal sebuah keluarga bukanlah satu-satunya variabel tunggal penentu masa depan kognitif anak.

Studi-studi tersebut mengungkapkan bahwa keberadaan sistem pendukung yang solid (support system), seperti kakek-nenek, paman, atau komunitas lingkungan yang positif, terbukti mampu memitigasi dampak negatif dari ketidakhadiran fisik orang tua, terutama dalam aspek perkembangan kecerdasan bahasa (linguistik). Artinya, jika seorang anak yatim atau anak dari keluarga retak tetap mampu tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berprestasi, hal itu membuktikan adanya mekanisme kompensasi kognitif yang luar biasa. Ketidakhadiran fisik seorang ayah berhasil disubstitusi oleh optimalnya kualitas asuhan ibu maupun figur pengganti lainnya.

Dominasi peran ibu dalam konstelasi domestik pun terbukti tak kalah vital dalam membentuk arsitektur otak anak. Roxana-Catalina Ghița dalam penelitiannya di Journal of Contemporary Approaches in Psychology and Psychotherapy (2023) menunjukkan bahwa dalam hal pembentukan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan sosial, peran ibu memiliki koefisien korelasi yang jauh lebih kuat dan mendalam dibandingkan figur ayah.

Temuan ini diperkuat oleh analisis Chuibin Kong dalam Frontiers in Psychology (2022) yang memosisikan ibu sebagai mediator utama dari hasil belajar anak di sekolah. Ibu yang menerapkan pola asuh otoritatif hangat namun tetap disiplin mampu menumbuhkan efikasi diri (self-efficacy) yang tinggi pada anak, sebuah keyakinan internal yang membuat anak tangguh menghadapi tantangan akademis yang rumit.

Lantas, jika ditarik garis lurus, siapakah yang paling berpengaruh terhadap kecerdasan anak? Jawabannya tidak berada dalam ruang biner hitam-putih. Keduanya memiliki pengaruh yang sama besarnya, namun bekerja dalam domain perkembangan yang berbeda. Pendidikan seorang ibu merupakan prediktor utama bagi skor IQ verbal anak, sebagaimana yang dipaparkan secara gamblang oleh P. Cermakova dalam jurnal Scientific Reports (2023). Ibu yang berpendidikan dan kaya kosakata akan menularkan kemampuan linguistik yang prima pada anaknya lewat komunikasi harian.

Sementara itu, di sisi lain, kehadiran ayah memegang peran vital dalam membentuk kecerdasan moral, penalaran logis, dan perilaku pro-sosial anak, sebagaimana dijelaskan secara mutakhir oleh Monika Dacka dalam jurnal Horyzonty Wychowania (2025). Ayah memberikan "warna" kognitif yang spesifik melalui gaya bermain yang lebih menantang fisik dan eksploratif.

Pernyataan bahwa peran ayah sangat penting dalam keluarga tetap valid dan memiliki landasan empiris yang kuat. Namun, argumen tersebut menjadi cacat logis apabila ayah dianggap sebagai satu-satunya penentu tunggal kesuksesan anak. Keberhasilan anak-anak yang tumbuh dari keluarga yatim atau pejuang LDR adalah bukti nyata bahwa kualitas interaksi jauh lebih utama daripada sekadar keberadaan fisik yang pasif.

Sebagaimana riset mendalam dari L. Malmberg dalam jurnal Child: Care, Health and Development (2015), kepekaan psikologis (sensitivity) dari salah satu orang tua yang mengasuh terbukti secara klinis mampu mengompensasi kekurangan stimulus dari pihak orang tua yang absen. Kehadiran fisik seorang ayah yang tidak pernah berinteraksi secara emosional dengan anaknya di rumah justru jauh lebih berbahaya daripada ketidakhadiran fisik yang dikompensasi oleh limpahan kasih sayang yang berkualitas.

Sebagai simpulan, di dalam dunia pendidikan, tidak perlu ada kontestasi ego sektoral tentang siapa yang "paling" bertanggung jawab atas kecerdasan anak. Pengaruh orang tua bersifat aditif (saling menambah) dan interdependen (saling bergantung). Ayah bertugas membentuk ketahanan ego dan logika luar, sementara ibu menjadi fondasi emosional dan bahasa di dalam.

Jika salah satu pilar tersebut terpaksa hilang karena takdir kehidupan, struktur masa depan anak tidak harus ikut runtuh menjadi puing-puing kegagalan. Pilar yang tersisa jika didukung oleh ekosistem lingkungan pembelajaran yang berkualitas dan adaptif memiliki kapasitas luar biasa untuk menopang seluruh potensi kognitif anak hingga mencapai puncak prestasinya. Kesuksesan dan kecerdasan anak pada akhirnya bukanlah soal kelengkapan personel di atas kartu keluarga, melainkan tentang seberapa besar kualitas cinta, ketulusan doa, dan ketepatan stimulasi yang mereka terima di meja belajar mereka.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

Editor : Sidkin
#Opini Radar Jember #kecerdasan anak #riset kecerdasan anak #akademik #Kognitif anak