MUSDA ICMI Orda Jember di Aula Praja Mukti Pemkab Jember, Sabtu 27 Juni 2026, menyisakan sebuah ironi yang layak direnungkan. Banyak hal paradoks di Jember. Di satu sisi, ia menyandang predikat kota pendidikan terbesar ketiga di Jawa Timur, bertumpu pada lebih dari 20 perguruan tinggi dan 773 pondok pesantren. Di sisi lain, BPS mencatat 224.770 jiwa penduduk Jember hidup di bawah garis kemiskinan pada 2024—angka absolut tertinggi di kawasan Tapal Kuda.
Namun angka itu perlu dibaca lebih jujur: secara proporsi, persentase kemiskinan Jember hanya 9,01 persen, jauh di bawah Kabupaten Probolinggo (17,19 persen), Bondowoso (13,34 persen), dan Situbondo (11,90 persen). Jember bukan yang terparah—tetapi dengan penduduk 2,6 juta jiwa, beban absolutnya paling berat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jember pun masih tertinggal dari rata-rata nasional.
Paradoks ini menuntut satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari: ke mana perginya seluruh modal intelektual itu? Pertanyaan ini bukan retorika—ia adalah tantangan nyata yang harus dijawab oleh ICMI, khususnya Organisasi Daerah (Orda) Kabupaten Jember yang baru saja menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) II. Musda bukan sekadar agenda pergantian pengurus. Ia adalah momen untuk bertanya kembali secara jujur: sudah sejauh mana ICMI benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat?
Surplus Kepakaran, Defisit Eksekusi
Salah satu ciri khas ICMI di berbagai daerah—termasuk Jember— adalah kelebihan pemikir namun kekurangan penggerak lapangan. Para pengurusnya adalah profesor, doktor, birokrat, pengusaha, dan kiai—sosok-sosok dengan kedalaman ilmu yang tidak perlu diragukan. Namun organisasi semacam ini kerap terjebak dalam siklus seminar-diskusi-dokumentasi, lalu berhenti. Gagasan besar lahir di aula pertemuan, tetapi pelan-pelan tenggelam dalam tumpukan berkas dan kesibukan profesi yang tak bisa ditinggalkan.
Sebagai gudang cendekia, kemampuan menganalisis dan merancang strategi memang tak diragukan lagi. Namun titik paling kritis justru bukan di sana, melainkan pada satu hal: merumuskan program kerja yang realistis. Sering kali karena terlalu bersemangat dalam rapat, kita lupa bahwa tanggung jawab profesi masih melekat erat. Begitu raker usai, pengurus kembali tenggelam dalam rutinitas. Program kerja ICMI yang ideal bukan soal seberapa ambisius targetnya, melainkan seberapa jujur kita mengukur sumber daya yang benar-benar tersedia.
Empat Kriteria yang Tidak Boleh Diabaikan
Pertama, program harus bergeser dari “menara gading” ke “menara air.” Menara gading menyimpan ilmu untuk dinikmati kalangan sendiri. Menara air mengalirkannya ke bawah—ke masyarakat, ke petani, ke santri, ke pelaku UMKM. Setiap program ICMI harus bermuara pada produk yang bisa langsung dipakai: policy brief ringkas untuk Bupati dan DPRD, modul pelatihan untuk santri, panduan teknis untuk petani kopi dan kakao. Ilmu yang tidak mengalir adalah ilmu yang mangkrak.
Kedua, program harus berbasis orkestrasi, bukan otot. Keterbatasan dana dan tenaga bukan alasan untuk diam—justru itulah alasan untuk bergerak lebih cerdas. ICMI tidak perlu menjadi pelaksana tunggal. Cukup menjadi “dirigen”: menghubungkan kampus yang punya riset dengan pesantren yang punya massa, mempertemukan dinas pemerintah yang punya anggaran dengan pengurus yang punya gagasan, menjembatani UMKM yang butuh pasar dengan akademisi yang punya jaringan. Inilah prinsip low energy, high leverage—modal kecil, dampak besar.
Ketiga, program harus berpijak pada keunikan Jember, bukan meniru kota lain. Jember bukan Surabaya, bukan Malang, bukan pula Banyuwangi. Jember adalah perpaduan unik antara kampus, pesantren, dan agroindustri—kopi, kakao, tembakau, dan edamame yang mendunia. Program yang baik lahir dari titik temu ini: santripreneur yang memasarkan produk pesantren secara digital, riset kampus yang menyentuh lahan petani Pandalungan, sertifikasi halal yang mendongkrak nilai jual produk UMKM lokal. Jember perlu membangun future practice—model masa depannya sendiri—bukan sekadar meniru best practice daerah lain.
Keempat, program harus menyasar isu yang punya dampak luas. Stunting bukan semata soal kesehatan—ia berkaitan dengan kemiskinan, pendidikan, dan produktivitas generasi berikutnya. Hilirisasi kopi dan kakao bukan sekadar urusan ekonomi—ia menyentuh martabat petani, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Satu program yang tepat sasaran bisa menciptakan efek domino yang jauh lebih besar dari sepuluh program seremonial.
Realistis Bukan Berarti Kecil
Kata “realistis” sering disalahartikan sebagai “tidak perlu bermimpi besar.” Padahal maknanya justru sebaliknya: bermimpi besar dengan pijakan yang konkret. Pada tahun pertama, ICMI Jember tidak perlu berambisi merancang puluhan program. Cukup tiga langkah fondasi:
Pertama, petakan keahlian seluruh pengurus secara rinci—siapa ahli di bidang apa, dari agraria hingga kesehatan, dari hukum hingga ekonomi syariah. Peta ini adalah aset dasar yang menentukan program apa yang realistis dikerjakan.
Kedua, publikasikan gagasan. Banyak ide bagus terkubur di dalam kepala pengurus karena tidak pernah dituliskan dan disebarkan. Website ICMI harus menjadi ruang berpikir terbuka—tempat policy brief, analisis singkat, dan pandangan para cendekiawan Jember bisa dibaca siapa saja. Ini bukan sekadar soal eksistensi digital, melainkan uji publik: gagasan mana yang memantik respons, dan mana yang disambut antusias warga Jember.
Ketiga, jadikan respons publik itu sebagai bahan baku program. Ide yang bergema di masyarakat itulah yang patut dipertimbangkan untuk dirumuskan menjadi program kerja konkret untuk tahun berikutnya. Dengan cara ini, program ICMI tidak lahir dari asumsi pengurus di ruang rapat, melainkan dari kebutuhan nyata yang sudah diuji.
Tiga langkah itu mungkin terdengar sederhana. Tapi yang dikerjakan dengan serius, konsisten, dan terukur—dampaknya akan jauh melampaui sepuluh seminar sekaligus.
Dari Kata ke Karya
ICMI Jember memiliki semua modal: cendekiawan lintas disiplin, jaringan pesantren yang kuat, akses ke birokrasi, dan legitimasi sosial yang tidak dimiliki organisasi lain. Yang kurang bukan sumber daya—melainkan keberanian mengubah cara kerja. Dari organisasi yang berbicara tentang perubahan, menjadi organisasi yang menciptakan perubahan.
Masa depan Jember tidak akan datang sendiri. Jember punya kampus. Jember punya pesantren. Jember punya komoditas unggulan. Yang dibutuhkan bukan lebih banyak potensi—melainkan keberanian untuk mengorganisasinya menjadi gerakan bersama. ICMI harus ada dalam gerakan itu. Bukan sebagai penonton. Tapi sebagai penggerak.
*) Penulis adalah pengurus demisioner ICMI Orda Kabupaten Jember.
Editor : Sidkin