Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tantangan Media Massa di Tengah Gelombang Algoritma, Opini oleh Kun Wazis, Alumnus Jurnalis Jawa Pos Radar Jember

Sidkin • Jumat, 17 Juli 2026 | 07:00 WIB
Kun Wazis, Kapus Informasi Data & PMB LPM UIN KHAS Jember, Pengurus ICMI Orda Jember.
Kun Wazis, Kapus Informasi Data & PMB LPM UIN KHAS Jember, Pengurus ICMI Orda Jember.

 

MEDIA sosial (medsos) kini menjadi sumber berita utama masyarakat dunia, bahkan melampaui televisi maupun situs dan aplikasi berita. Temuan ini diungkap Reuters Institute dalam laporan bertajuk “Digital News Report 2026”. Riset ini dilakukan pada pertengahan Januari hingga akhir Februari 2026 dan melibatkan lebih dari 85.000 responden di 48 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, secara global, sebanyak 54 persen responden mengaku memperoleh berita dari media sosial dan platform video dalam sepekan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibanding televisi (52 persen) maupun situs dan aplikasi berita (51 persen).

Fenomena ini menjadi tantangan berat bagi media massa, terutama media massa cetak yang masih bertahan dengan produk pers cetak. Termasuk media massa lokal, seperti Jawa Pos Radar Jember yang pada 16 Juli 2026 memasuki usia 27 tahun. Pertama, pergeseran drastis perilaku pembaca dari offline (media cetak) ke online (media). Online menjadi warning bahwa konsumen tidak lagi tertarik dan mau ribet membaca melalui media cetak.

Kedua, trend bangkitnya medsos sebagaimana laporan Reuters Institute menjadi satu bentuk ‘perlawanan’ kepada industri media massa bahwa produk informasi bisa diperoleh dan diproduksi secara mandiri dan tidak bergantung kepada media massa. Dengan demikian, perubahan sosial bisa bergeser dari media massa ke media sosial. Ketiga, pembaca memiliki kecenderungan tertarik pada tren algoritma media sosial, dibandingkan dengan produk media massa yang menyajikan informasi lebih akurat. 

Tercatat dalam sejumlah laporan media online yang bisa kita akses, pada tahun 2026, jumlah pengguna medsos di Indonesia mencapai 180 juta identitas, yang setara dengan sekitar 62,9 persen dari total populasi. Tingkat penetrasi internet nasional juga melonjak hingga 81,72 persen atau sekitar 235,2 juta jiwa dari total 287,8 juta penduduk. Rata-rata, mereka membutuhkan 3 jam untuk mengakses medsos setiap harinya! Berdasarkan frekuensi aksesnya, medsos TikTok menempati posisi puncak (31,8 persen), disusul medsos Facebook (29,4 persen) dan medsos Instagram (27,7 persen). Sisanya, platform media sosial Youtube!

Ketiga fenomena ini ikut menantang media massa untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memiliki strategi komunikasinya dalam mempertahankan pasar media massa, utamanya konsumen media cetak. Berbagai langkah yang inovatif dan kreatif sudah dilakukan dalam bisa mempertahankan eksistensi pembacanya.

Pertama, media massa melakukan strategi konvergensi, tidak bertahan kepada media massa cetak, tetapi juga merambah ke media online. Hal ini bisa dilihat dari kolaborasi platform digital yang diproduksi oleh media konvensional dengan memperkuat di platform online. Contoh kasus media cetak lokal Radar Jember yang berdiri pada 16 Juli 1999, kini memperkuat platform digitalnya melalui Radar Jember Digital. Strategi ini dapat menghubungkan pembaca (audience) agar tidak kehilangan brand Jawa Pos Radar Jember. Sementara, para pelanggan yang rata-rata “sepuh” masih bisa menikmati produk jurnalistiknya melalui Koran Radar Jember. 

Kedua, pergeseran pembaca yang lebih memilih media sosial sebagai basis informasi juga sudah ditangkap sejak lama oleh industri media massa cetak. Mereka rata-rata juga menjaring massa maya (siber audience) dengan platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dan Youtube sebagai saluran komunikasi dengan pembacanya. Bisa dipastikan, media massa kini memiliki media sosial agar tidak ditinggal atau ketinggalan pembacanya. Strategi melalui media sosial ini akan mampu menjawab keinginan pembaca medsos untuk mendapatkan informasi media massa. Meskipun basis yuridisnya berbeda antara medsos dan media massa, tetapi keduanya dapat berintegrasi maupun berkolaborasi.

Ketiga, melalui pilihan media sosial ini pula, media sosial dapat terjun ke dunia algoritma melalui platform media online/media sosial yang dijadikan sebagai media komunikasi antara industri media massa dengan platform digital media sosial yang standarnya adalah pasar algoritma. Kekuatan media massa cetak yang bersifat konvensional dalam mengisi ruang algoritma ini melalui produk jurnalistiknya yang lebih praktis, berbasis data, grafis yang ringkas, layout yang menarik, dan jaringan pembaca yang luas. Media massa penyiaran, seperti Radio dan Televisi yang sebelumnya bertahan dengan model konvensional, kini pun merambah ke media penyiaran berbasis web, seperti web radio, Web TV, mengikuti media cetak yang juga berbasis web.

Media Massa Merebut Pasar Algoritma

Melalui jaringan konsumen yang besar dan modal yang cukup, media massa konvensional yang menurut laporan Reuters mulai kalah popular dengan media sosial dapat bertahan melalui ketiga langkah tersebut. Pertama, kolaborasi antara media massa cetak dengan media online akan mampu menjaring kembali dengan konsumen di dunia maya, termasuk pasar iklan yang bisa bersifat paket, baik produk iklan online maupun iklan cetak sebagai salah satu sumber pendapatan media.

Kedua, Harmonisasi antara media massa dengan media sosial menjadi jembatan yang inovatif dan efektif dalam mempertahankan pasar media (segmentasi), yakni pembaca maya (siber audience). Melalui jalinan yang harmonis, media massa dan media sosial akan sama-sama mendapatkan ‘keuntungan’ yang akseleratif, karena media massa tetap bisa menjalin hubungan dengan konsumen di media sosial.

Ketiga, Adaptasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui gelombang algoritma media digital harus terus dilakukan beragam inovasi yang bisa merebut pasar media maya (cyber segmentation). Keempat, sinergi media massa dengan media sosial akan menjadi kekuatan yang bisa mempertahankan pasar media massa. Iklan tidak lagi berada pada ruang media cetak, tetapi bisa disinergikan dengan media sosial yang diproduksi oleh media massa. 

Tentu saja, media massa tetap harus menyiapkan langkah-langkah inovatif ke depan melalui berbagai lompatan dalam memproduksi informasi. Yang jelas, publik masih mengharapkan sebuah akurasi informasi dari sebuah media, bukan sekadar banjir informasi. Media massa memiliki kekuatan dalam memproduksi berita yang akurat, hanya butuh tampilan yang lebih praktis di media sosial.

Media massa cetak Radar Jember yang usianya memasuki 27 tahun, akan tetap bertahan dengan keempat strategi tersebut, karena sudah memiliki pengalaman sebagai industri pers dan memiliki jaringan konsumen yang kuat dan loyal. Selamat HUT Jawa Pos Radar Jember. Semoga tetap menjadi media komunikasi yang menyajikan akurasi informasi dan kritis dalam menyajikan berita perubahan sosial! 

 

*) Penulis adalah Kapus Informasi Data & PMB LPM UIN KHAS Jember, Pengurus ICMI Orda Jember, alumnus Jurnalis Jawa Pos Radar Jember (1999-2009).

Editor : Sidkin
Opini Radar Jember Tantangan media Radar Jember Algoritma media sosial