SELAMA 27 tahun Radar Jember (RJ) menjalankan fungsi sebagai koran harian. 16 Juli berultah. Ucapan berdatangan dari beragam kalangan. Komplet dengan foto terbaik yang mengesankan peran. Pujian terus berulang dengan segala harapan. Pendek kata, ketika momentum ultah tiba, potret tokoh dan pejabat mereduksi halaman pemberitaan. RJ euforia. RJ mengibar bendera. Mayoritas ucapan sarat pujian. RJ mendapatkan tepuk tangan. Penilaian orang, banyaknya ucapan selamat dari pejabat seolah merupakan pertanda RJ telah tuntas membangun manfaat.
RJ kini menggeliat menyambung eksistensinya dalam dunia persuratkabaran. Berkompetisi dalam industri berbasis online. Akselerasi dibutuhkan. Kemasan praktis menuntut dikedepankan. Output lebih dipentingkan, dibanding substansi etis pemberitaan. RJ terus bernegosiasi dengan keadaan. Dijepit tuntutan profesionalitas dan pragmatisme bisnis. Berhadapan dengan penetrasi politis yang dapat mengubur ideologis. Dalam perspektif industri, RJ mampu menyesuaikan diri. Diterbitkan versi digital. Dirasa praktis mengikuti pembaca yang membutuhkan.
RJ Di Tengah Disrupsi
Khalayak lupa, saat ini RJ berada di tengah belantara liar. Disrupsi dalam fenomena ketidakpastian. Berselancar di sela hidup dan kehidupan dalam landscape tanpa piara pada ranah dialektika bernegara. Kebijakan menyalahi sistem. Solusi melawan konsensus. Banyak program tak jelas tujuan. Produk kognisi menegasikan aspirasi. Dalam tataran konkrit, RJ kini berada dalam benang kusut persoalan. Betapa tidak. Akumulasi parodi demikian tiap saat bermunculan. Di Tiktok maupun Instagram. Menjadi headline koran lokal. RJ memberitakan dengan prinsip kehati-hatian. Memotret problem kebangsaan. Mengkomunikasikan masalah kebijakan. Menyajikan derita orang hingga di meja makan.
APBN minus, pajak rakyat menjadi solusi khusus. Pejabat korup, naikkan gaji di atas cukup. Transaksi hukum, naikkan gaji APH hingga batas maksimum. Ekonomi loyo, bangun KDMP merata seperti posko. Anak-anak bodo, genjot dengan MBG meskipun dinilai bego. Guru tak sejahtera, tanamkan ikhlas melayani siswa. Jalan rusak galakkan swadaya, bukan gejolak. Kemiskinan naik, ganti saja indikatornya tanpa harus panik. Harga menjulang, kencangkan ikat pinggang. Indonesia suram, pindah negara tanpa menggumam.
Refleksi beragam problem di atas menjadi konsumsi rutin. Hingga masyarakat seolah imun. Seharusnya menangis menjadi tawa dengan mengumbar pasrah. Beberapa tahun lalu, saya melansir dalam sebuah opini. RJ sebagai koran lokal diharapkan mau dan mampu mengeksplorasi peristiwa. Menggelorakan opini dengan cerdas melakukan abstraksi. Mengemas laporan sebagai berita. Ditopang akurasi fakta tanpa rekayasa. Menciptakan ruang publik serta mengendalikan berbagai relasi.
RJ dituntut untuk menyalakan sensitifitasnya mengendus aroma tanpa menegasikan norma. Tentu saja dengan kontrol objektifitas. Mengasah ketajaman sekaligus mengedepankan kecermatan. Detail dan berimbang. Terbiasa menyajikan peristiwa apa adanya. Jauh dari keberpihakan. Satu lagi, bekerja dengan talenta ideologis, “kabar yang baik adalah berita yang buruk”.
Konsep pemikiran di atas merupakan komitmen yang seharusnya dimiliki RJ sebagai pilar demokrasi dan kontrol terhadap otoritas. Ketika RJ sebagai representasi media pada umumnya, maka pertanyaan yang urgen untuk dijawab pada momentum 27 tahun RJ kali ini adalah, masihkah Radar Jember menjalankan fungsi idealnya sebagai pilar demokrasi? Apakah nilai-nilai profesionalitas tetap dijunjung tinggi dalam mengawal ruang publik? Ataukah sebaliknya, katut arus menjadi alat legitimasi?
Konsistensi RJ Dalam Ruang Publik
Masyarakat Jember terutama, berharap agar RJ jangan sampai hilang kelamin. Mengubur rasa percaya banyak orang. Bergeser dari tumpuan objektifitas. Tidak lagi menjadi wahana curhat masyarakat. RJ jangan sampai teralinasi dari sifat hakikinya. Mereposisi dari tahta kerakyatannya. Sembunyi dan disembunyikan di ketiak kuasa. Melindungi oligarki kepentingan.
RJ tidak dikehendaki mengubah wajah menjadi pilar yang hilang wibawa. Ter-kooptase oleh predator melalui perangkat yang menjerat. RJ diimbau tidak terjebak kemasan yang acapkali dibungkus halus melalui berbagai diksi manis : sinergi, kolaborasi, bermitra dan sejenisnya untuk dan atas nama kesepahaman. Kesepahaman yang pada dasarnya kontradiktif dengan komitmen moral sebagai media.
Jika menegasikan harapan di atas, pada gilirannya RJ mengalami hilang eksistensi. RJ akhirnya tidak lebih sebagai corong kabar peresmian. Mengulas pencitraan. Menyodorkan statistika angka yang acapkali tidak serta merta linier dengan fakta. Miskin investigatif, yang penting beritanya positif. Buruh tidak tahu kalau pengusaha tidak membayar upah sesuai UMK bisa dipidana selama 1 hingga 4 tahun penjara karena media telah bergeser fungsinya. Masyarakat tidak paham jika tarikan parkir di bawah tidak seragam.
RJ secara moral seharusnya menjadi alternatif menyuarakan kritik. Tanpa pretensi menghakimi, masihkah keharusan fungsional itu melekat pada diri RJ? Mohammad Arkoun, filsuf dari Universitas Sorbonne, Prancis, menyatakan kritik sesungguhnya menghidupkan manusia dan realitas. Meminjam konstruksi berpikir Arkoun, sesungguhnya peran mengedepan RJ sebagai media adalah jembatan. Dengan media masyarakat bisa mengkritik diri sendiri maupun pihak lain. Pihak lain yang dimaksudkan adalah relasi agar perspektif publik menjadi landasan dalam memberikan pelayanan.
Hebermas, memberikan penguatan bahwa ruang publik sangat penting untuk menciptakan keseimbangan antara rakyat dan penguasa. Tanpa ruang publik yang otonom, dapat dipastikan ruang perdebatan akan tertutup. Tirani kian melenggang dalam skala apa pun. Mobilisasi menjadi penetrasi atas nama pembangunan. Eksploitasi menjadi budaya. Arogansi merajalela. Sementara telinga pejabat tersumbat oleh tepuk sorak massa sebagai produk rekayasa.
27 Tahun Radar Jember berkiprah. RJ dikehendaki mampu memainkan tantangan keaktoran dalam kaidah perjuangan. Kritis terhadap lalulintas faktual agar lahir beragam gagasan cerdas dan mencerdaskan. Kritis tidak selalu diametral. Kritis merupakan ruang moralitas yang tak boleh hilang dalam kebersamaan guna mencapai tujuan.
*) Penulis adalah Akademisi FH Universitas Jember
Editor : Sidkin