FOUNDING fathers Bangsa Indonesia Bung Karno memberikan kalimat wasiat berharga yakni, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Narasi tersebut menegaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan 17 Agustus 1945 jauh lebih mudah untuk mengusir penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang dari NKRI. Akan tetapi yang menarik adalah bagaimana Bung Karno menegaskan bahwa perjuangan selepas kemerdekaan akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.
Menarik sekali mencermati apa yang telah diwasiatkan oleh Bung Karno tersebut di atas dari perspektif aksi nyata bela negara seperti apa yang bisa dilakukan oleh seorang guru untuk bisa mewarnai Indonesia dan bahkan mengubah dunia, selaras yang diwasiatkan oleh Nelson Mandela bahwa “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa Anda gunakan untuk mengubah dunia” (Nelson Mandela). Sebuah pernyataan dengan penuh kedalaman makna dari sang peraih nobel perdamaian itu menarik untuk dijadikan refleksi sekaligus semangat bangkit untuk membangun peradaban bangsa melalui pendidikan. Tentunya sudah tidak bisa diperdebatkan lagi bahwa pendidikan berkualitas sejatinya merupakan investasi terbaik untuk masa depan, karena setiap manusia dapat mencapai potensi kodratnya sehingga dapat membangun masa depan yang lebih baik.
Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara juga menjelaskan pentingnya pendidikan sebagai tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, dengan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Terlihat dengan jelas betapa pentingnya pendidikan sebagai salah satu pemutus mata rantai kemiskinan dan berdampak langsung pada wajah kesejahteraan suatu bangsa. Bahkan, dalam berbagai kasus, kualitas sistem pendidikan secara keseluruhan berkaitan dengan kualitas guru (Beeby, 1969).
Sebagai ujung tombak dalam proses pembentukan sumber daya manusia yang cerdas dan berkualitas, guru memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan agen perubahan (Fatmawati, 2021). Proses pendidikan yang terus berkembang, peran guru semakin kompleks dan menuntut kemampuan yang lebih tinggi. Guru tidak sekadar pemandu wisata edukasi bagi siswa dalam menemukan pengetahuan baru. Akan tetapi, guru tidak hanya sekadar pengajar yang mentransfer pengetahuan, tetapi juga berperan sebagai fasilitator pembelajaran, motivator, dan agen perubahan. Peran guru sebagai agen perubahan semakin relevan dalam konteks Indonesia saat ini. (Budiasa, 2021).
Pemerintah sejatinya telah hadir memberikan tanda jasa bagi guru sang pelita penerang dalam gulita yang jasanya tiada tara itu dengan aneka tunjangan. Adapun aneka tunjangan guru ASN tersebut antara lain; tunjangan kinerja, tunjangan suami/istri, tunjangan anak, tunjangan makan, dan tunjangan profesi guru yang sekarang sudah bisa dibayarkan setiap satu bulan sekali. Sementara itu, bagi guru non-ASN pemerintah juga hadir dengan memberikan tunjangan profesi yang awalnya Rp. 1.500.000, -/bulan (Permendiknas Nomor 72 Tahun 2008) sekarang besarnya tunjangannya Rp 2.000.000/bulan dan dibayarkan rutin setiap bulan.
Apresiasi nyata yang diberikan oleh pemerintah dengan aneka tunjangan tersebut di atas, bagi guru yang dalam palung hatinya terpatri spirit kalimat “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” pastinya sangat bersyukur akan kesejahteraannya. Bagi guru sejati yang menghibahkan jiwa raganya membangun negeri, wujud Syukur tersebut tentunya akan diwujudkan dengan peningkatan kinerja. Lantas, langkah-langkah strategis apa yang harus dilakukan oleh guru dari ruang-ruang kelas untuk mendidik siswa menuju Indonesia Emas?
Pertama, Menanamkan dan menguatkan 8 Dimensi Profil Lulusan yang meliputi; Ketuhanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kesehatan, dan Komunikasi, serta lima nilai karakter utama yakni; Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas sebagai pondasi utama menuju Indonesia Emas, maka guru harus mengintegrasikan nilai-nilai luhur tersebut di atas dalam setiap proses pembelajaran.
Kedua, Guru harus menguasai keterampilan abad ke-21 serta terus mengasah dan meningkatkan keterampilan diri untuk memenuhi tuntutan global, kehidupan, dan pekerjaan dengan menjawab tuntas 6C tuntutan pembelajaran abad 21 yang meliputi; Character (Karakter), Citizenship (Kewarganegaraan), Critical Thinking (Berpikir Kritis), Creativity (Kreativitas), Collaboration (Kolaborasi), dan Communication (Komunikasi). Maka dari itu, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam peningkatan Pendidikan, menjadi penentu keberhasilan siswa dan memiliki dampak signifikan pada proses pembelajaran serta hasil pendidikan yang berkualitas (Burhan & Saugadi, 2017).
Ketiga, Guru harus menumbuhkan Growth Mindset, yakni membentuk mentalitas tangguh pada siswa agar tidak mudah menyerah dalam situasi dan kondisi apa pun. Mengubah cara pandang melihat kegagalan dan lebih mengapresiasi proses daripada hasil adalah salah satu strategi mendidik murid.
Keempat, Penguatan Literasi dan Numerasi, di mana guru harus berperan sebagai fasilitator, motivator, dan teladan literasi numerasi di kelas, karena keberhasilan peningkatan literasi numerasi sangat dipengaruhi oleh konsistensi guru dan dukungan lingkungan sekolah.
Kelima, Penguatan Literasi Digital. Literasi digital menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif, kritis, dan bertanggung jawab. Strategi yang bisa dilakukan guru dalam mengembangkan literasi digital siswa, yaitu pemanfaatan media pembelajaran berbasis digital, pembiasaan mencari informasi yang valid, penerapan pembelajaran berbasis proyek, dan penguatan etika digital.
Akhirnya, marilah kita sebagai pejuang pendidikan tidak akan pernah lelah menghibahkan jiwa raga mencetak generasi emas penerus bangsa Indonesia tercinta dari ruang-ruang kelas. Bagi pendidik sejati, bela negara bukan hanya soal memanggul senjata, akan tetapi bela negara memiliki wujud yang lebih kreatif dan relevan dengan kehidupan masa kini dalam menciptakan pembelajaran berkualitas. Yakinlah bahwa Indonesia Emas itu tidak jatuh gratis dari langit, mimpi besar itu akan terwujud dengan semangat gotong royong dan kristalisasi keringat para guru hebat yang selalu menjadi teladan, penguat karakter murid, agen dahsyat perubahan digital, dan selalu menginspirasi bagi semua peserta didiknya agar mereka bisa mencapai bahkan melampaui mimpinya.
*) Penulis adalah Kepala SMK Negeri 3 Bondowoso.
Editor : Sidkin