HALOJEMBER – Hari pertama masuk kerja pascalibur, Bupati Jember Muhammad Fawait langsung menyerukan langkah efisiensi di lingkungan Pemkab Jember.
Salah satu yang disiapkan yakni skema kerja fleksibel atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).
Langkah itu disiapkan sebagai respons atas tekanan global terhadap harga energi yang berimbas pada beban subsidi pemerintah pusat.
Fawait menegaskan, daerah harus ikut mengambil peran dalam menekan konsumsi energi.
“Kita tahu bahwa dengan adanya kondisi di timur tengah, membuat harga minyak tidak stabil, sehingga ketika harga minyak dunia naik drastis dan BBM di Indonesia tidak dinaikkan pasti akan menambah beban subsidi pemerintah pusat, presiden sudah selayaknya untuk menganjurkan melakukan efisiensi pada seluruh pihak di Indonesia,” ujarnya.
Menurut dia, kebijakan efisiensi bukan karena kelangkaan energi di daerah. Stok BBM di Jember dipastikan masih aman.
Namun, pengendalian konsumsi dinilai penting agar beban subsidi tidak semakin membengkak.
“Hal ini bukan berarti stoknya langka. Stoknya masih aman, tapi ini terkait konsumsi BBM,” imbuhnya.
Sebagai bentuk konkret, Pemkab Jember mulai menyiapkan skema WFH melalui BKPSDM. Skema tersebut akan diterapkan jika ada arahan lanjutan dari pemerintah pusat, dengan porsi satu hingga dua hari dalam sepekan.
“Bahkan hari ini saya dengan BKPSDM sedang menyiapkan skema apabila ada perintah untuk WFH. Kita punya pengalaman saat Covid, insyaallah kalaupun harus ada WFH mungkin dalam seminggu satu sampai dua hari, tidak akan mengganggu pelayanan publik,” tegasnya.
Selain itu, Fawait juga menyinggung langkah efisiensi yang telah dilakukan sebelumnya dengan meniadakan kegiatan seremonial, termasuk open house di pendopo.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menekan pengeluaran yang tidak mendesak.
“Maka, kita sebagai kader dan bagian dari NKRI saya putuskan tidak ada open house di pendopo, tapi kalau ada tamu datang kami terima ala kadarnya, niat kita untuk mendukung efisiensi,” tandasnya.
Untuk diketahui, lonjakan harga energi dunia saat ini dipicu konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Penutupan sebagian Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global ikut memperparah situasi.
Sejak awal Maret 2026, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak Brent naik sekitar 40 persen dan kini berada di kisaran USD 99–113 per barel.
Sementara minyak WTI meningkat lebih dari 33 persen ke level USD 91–100 per barel. Kenaikan juga terjadi pada gas alam dan bensin global yang sempat melonjak hingga 10 persen dalam sehari.
Dampaknya, sedikitnya 95 negara telah menaikkan harga BBM. Kamboja mencatat kenaikan tertinggi hingga sekitar 68 persen, disusul Vietnam 50 persen, Nigeria 35 persen, hingga Singapura 15,7 persen.
Berbeda dengan negara lain, Indonesia hingga 25 Maret 2026 masih menahan harga BBM untuk menjaga daya beli masyarakat.
Namun, pemerintah mulai menyiapkan langkah mitigasi, termasuk opsi WFH guna menekan konsumsi BBM nasional hingga 20 persen jika harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi