Distribusi BBM Sudah Membaik, Pemkab Jember Cabut WFH

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:58 WIB
MASIH POTENSI KRISIS LAGI: Sejumlah SPBU di Jember yang masih melayani pembelian BBM. Belakangan ini antrean diklaim telah berangsur berkurang, namun potensi krisis BBM serupa masih berpeluang terjadi lagi.(MAULANA/RADAR JEMBER)
MASIH POTENSI KRISIS LAGI: Sejumlah SPBU di Jember yang masih melayani pembelian BBM. Belakangan ini antrean diklaim telah berangsur berkurang, namun potensi krisis BBM serupa masih berpeluang terjadi lagi.(MAULANA/RADAR JEMBER)

Halo Jember - Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang belakangan menyandera mobilitas masyarakat memaksa pemerintah dan otoritas terkait harus memutar otak untuk segera mencari jalan keluarnya.

Meski pemerintah daerah dan PT Pertamina Patra Niaga mengklaim situasi pasokan energi berangsur pulih dan kondisi telah terkendali, realitas di lapangan, antrean kendaraan masih terjadi di sejumlah titik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jember.

Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian, mengaku sempat berkoordinasi dengan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga untuk mencari alternatif pasokan dari luar wilayah demi menutup defisit di Jember. 

"Saya sempat komunikasi juga dengan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga. 

Baca Juga: Warga Miskin Jember Turun 0,67 Persen, Jumlahnya Kini Peringkat 3 di Jatim

​Saya menyampaikan kepada mereka bahwa di dapil kami, di Jember, ini sudah mulai kelangkaan kemarin sudah beberapa hari. "Siap, Mas," kata dia,

"Nanti kita coba cari pasokan dari tempat lain." Mudah-mudahan bisa segera teratasi," kata Kawendra, saat dikonfirmasi, Selasa (20/10),

Politikus Partai Gerindra ini juga mengakui bahwa jalur distribusi via Gumitir Jember, cukup rawan yang bisa memicu kepanikan pasokan, seiring dengan adanya keretakan ruas jalan di salah satu titik di jalur Gumitir.

"Sementara kan masih alternatifnya via darat sejauh ini, jadi belum ada alternatif lain.

Jadi yang paling mungkin adalah kita lakukan mitigasi untuk jalan tersebut.

Pokoknya doakan semua ikhtiarnya dilancarkan dan nanti saya koordinasi terus sama Gus Fawait (bupati Jember) juga," imbuh legislator Dapil Jember Lumajang itu.

Krisis pasokan yang sempat melumpuhkan aktivitas publik ini sebelumnya memaksa Pemkab Jember mengambil langkah drastis.

Para Aparatur Sipil Negara (ASN) sempat diminta menerapkan sistem bekerja dari rumah (Work From Home / WFH) mulai Jumat hingga Senin sebelumnya demi menekan mobilitas di jalan raya. Setelah itu, WFH pun dicabut.

Bupati Jember Muhammad Fawait, menegaskan bahwa kondisi ketersediaan BBM di wilayahnya kini diyakini telah aman.

Pasca-audiensi di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Selasa (20/10), ia menyebut, pengalaman menghadapi krisis serupa hingga empat kali menjadi pelajaran penting bagi sinergi antara pemerintah pusat, Pertamina, dan pemda. 

"Hari ini kondisi ketersediaan BBM di Jember aman dan kondisi sudah kembali pulih, ASN juga kembali tidak WFH. Kami mengapresiasi langkah cepat pemerintah pusat mengatasi kelangkaan ini," katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi distribusi tidak hanya mengandalkan satu titik dari Banyuwangi, tetapi menarik pasokan dari Surabaya atau Malang jika sewaktu-waktu terjadi hambatan geografis maupun geopolitik global.

"Ke depan (upaya penanganan jangka panjang) kita pasti akan berkomunikasi intens dengan Pertamina dan pemerintah pusat.

Kalau sudah ada tanda-tanda masalah distribusi, tidak hanya mengandalkan satu titik di Pelabuhan Banyuwangi, tapi bisa segera mengambil dari daerah yang lain seperti Surabaya dan lain sebagainya," harapnya.

Sales Area Manager Retail Malang PT Pertamina Patra Niaga, Angga Y. Putra, yang turut hadir dalam audiensi di Pendapa Wahyawibawagraha (20/10) itu, tidak menampik adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Menurut Angga, rata-rata penyaluran normal harian di Jember yang biasanya berada di angka 570 kiloliter (KL) per hari, kini telah ditingkatkan hingga mendekati 20 persen lebih atau sekitar 680 hingga 700 KL per hari.

Peningkatan ini terjadi akibat lonjakan permintaan (shifting) dari Pertamax ke Pertalite pasca-penyesuaian harga.

"Kami terus memantau kecukupan kebutuhan BBM di Jember. Memang antrean kerap terpantau pada jam-jam tertentu, seperti saat warga berangkat atau pulang kerja.

Kami terus melakukan rekayasa antrean dan mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan SPBU alternatif yang lebih lengang," katanya. (mau/nur)

 

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
bbm