HALOJEMBER – Kodok sawah (Rana cancrivora), yang dahulu dianggap hama pengganggu atau sekadar hewan liar, kini menjelma menjadi komoditas ekonomi yang menjanjikan.
Berdasarkan pantauan terbaru di pasaran, harga daging kodok sawah siap masak (swike) kini dijual dikisaran harga Rp65.000 hingga Rp90.000 per kilogram, tergantung ukuran.
Permintaan daging kodok, baik untuk konsumsi lokal di restoran swike maupun untuk ekspor ke pasar Eropa (Prancis & Belgia), terus meningkat.
Baca Juga: Belajar Nasionalisme Lewat Soto Madura, Mahasiswa Unej Turun Langsung ke Dapur Kuliner Tradisional
Bahkan, dikutip dari CNBC Indonesia melaporkan permintaan kaki kodok (kode HS2089010) dari Indonesia dihargai tinggi di luar negeri.
Di tingkat peternak, budidaya kodok lembu (bullfrog) menjadi peluang bisnis menjanjikan.
Modalnya lahan minimalis dan beberapa pembudidaya berhasil meraih cuan dari permintaan pakan predator ini.
Baca Juga: Menjelajahi Surga Rempah, Mengapa Kuliner Madura Tak Pernah Gagal Menggoda Lidah
Mengapa Kodok Sangat Dicari? Manfaat Kesehatan dan Ekosistem
Selain rasanya yang gurih, kodok memiliki segudang manfaat yang menjadikannya populer, di antaranya:
1. Sumber Protein Hewani Tinggi: Daging kodok segar mengandung sekitar 22 gram protein per 100 gram, menjadikannya alternatif makanan bergizi.
2. Rendah Kolesterol: Khususnya kodok lembu (bullfrog), dagingnya dikenal tidak mengandung kolesterol dan rendah lemak.
3. Obat Tradisional & Stamina: Dipercaya dapat meningkatkan stamina, melancarkan aliran darah, menyembuhkan gatal-gatal, dan diyakini membantu mengobati asma serta impotensi.
4. Bio-indikator Lingkungan: Kodok sawah adalah predator alami hama pertanian seperti serangga dan larva, menjaga keseimbangan ekosistem, serta menandakan lingkungan yang belum tercemar.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Semarang Menggugah Selera untuk Para Petualang Rasa
Tips Membeli Kodok
Bagi Anda yang ingin membeli, pastikan memilih kodok yang segar. Di pasaran online, kodok sawah beku (frozen) sering menjadi pilihan karena kebersihannya terjamin.
Editor : Hariri HJ