Halo Jember - Siapa sangka camilan manis berlubang yang sering kita makan sambil santai ini punya sejarah yang panjang ? Donat ternyata bukan muncul tiba-tiba dia hasil evolusi panjang dari tradisi menggoreng adonan yang udah ada sejak ratusan tahun lalu.
Tapi jejak resmi “leluhur donat” paling kuat datang dari Belanda lewat camilan bernama olykoek, roti goreng bulat yang dibawa imigran ke New Amsterdam di abad ke-17.
Bentuknya waktu itu masih padat dan nggak ada lubang sama sekali, dan bagian tengahnya sering nggak matang. Jadinya diisi buah atau kacang biar tetap enak dimakan.
Nah, tidak lama berselang donat sampai di Amerika. Dari adonan bulat sederhana, donat berubah total berkat kreativitas seorang pelaut muda bernama Hanson Gregory.
Dia merasa bagian tengah roti goreng selalu lembek, jadi dia mendapatkan ide brilian melubangi bagian tengah adonan.
Ternyata bukan hanya membuat matangnya merata, bentuk ini juga praktis buat kehidupan pelaut. Dari sini lahirlah bentuk donat klasik yang akhirnya mewabah ke mana-mana.
Begitu donat masuk ke budaya Amerika, statusnya naik level. Toko roti di sana mulai memamerkan donat hangat yang mengilap di pagi hari, sampai akhirnya donat jadi ikon pop culture.
Popularitasnya makin gila ketika mesin penggoreng donat otomatis ditemukan di tahun 1920 oleh Adolph Levitt, sehingga camilan ini semakin menjamur dan jadi bagian dari sarapan orang Amerika.
Kalau ditarik lebih jauh, konsep adonan goreng sebenarnya ada di banyak budaya pada beberapa negara.
Di Spanyol ada churros, di Prancis ada beignet, Italia punya bomboloni, Yunani dengan lukumades, dan Asia Timur dengan cakwe.
Semua punya vibe yang mirip yakni adonan tepung, minyak panas, dan rasa manis yang bikin happy. Donat cuma salah satu evolusi dari tradisi panjang ini.
Di Indonesia sendiri, donat baru populer beberapa dekade lalu. Cikal bakalnya muncul di Djakarta Fair tahun 1968 lewat American Donut.
Baca Juga: 178 Pendaki Terjebak Erupsi Gunung Semeru, Tertahan di Jalur Pendakian dan Ranu Kumbolo
Setelah itu, gerai besar kayak Dunkin’ mulai buka cabang di tahun 1985 dan bikin donat jadi camilan mainstream.
Lalu tahun 2005, tren donat meledak lagi waktu brand lokal seperti J.CO hadir dengan konsep donat kekinian yang lembut, topping kreatif, dan vibes modern.
Setelahnya brand global lain ikut masuk, bikin donat makin melekat dalam budaya ngopi dan nongkrong masyarakat lokal.
Donat yang kita kenal sekarang biasanya hadir dalam dua bentuk: klasik dengan lubang di tengah dan versi bulat isi selai atau krim.
Bahan dasarnya sama saja tepung, gula, mentega, telur, dan ragi tetapi sentuhan topping bikin donat punya karakter masing-masing.
Dan meski bentuknya mirip, donat beda total dari bagel, baik dari bahan, teknik, sampai cara penyajiannya.
Sisa adonan donat juga punya “karier” sendiri. Potongan kecil bekas bikin lubang biasanya dijual sebagai doughnut holes, yang akhirnya jadi camilan favorit juga.
Sekarang, setelah ratusan tahun berevolusi, donat udah jauh banget dari olykoek Belanda yang sederhana.
Ia jadi simbol budaya pop, teman nongkrong di coffee shop, camilan comfort food, dan makanan nostalgia yang nggak pernah gagal bikin mood kembali baik.
Penulis: Tazyinatul Ilmiah
Editor : Dwi Siswanto