Surat untuk Kakanda
Kau adalah cerita terbaik yang pernah bertumbuh bersama,
44 Tahun berperan ganda sebagai orang tua bagi para saudara
Namun kini kita berada di bab yang berbeda.
Pergilah, tempuhlah jalanmu dengan gagah,
Biarkan rapal kidung doaku menjadi jembatan yang tak pernah patah.
Sebab meski raga kita memunggungi bayang-bayang,
Di dalam doa, kita takkan pernah benar-benar putus untuk jalan pulang
Kita adalah dua garis yang sempat bersinggungan,
Lalu melanjut tegak, mencari arti masing-masing tujuan,
Sebab semesta yang berbeda.
Kau nikmati setiap peluh lillah amal ibadahmu
Kau rasakan lezatnya buah sabar atas sakit yang diberikan-Nya di akhir-akhir hidupmu
Ingatkah engkau saat kutulis puisi pertamaku tentang Ayah, di tahun 1983
Yang kubaca di depanmu saat ku jadi peserta dan kau juri yang justru ikut berkaca-kaca menahan tangis…
Di malam pentas seni alhaflatul kubro saat itu?
Selamat jalan kakanda..
Terima kasih untuk semua tumbuh kembangku dalam asuhmu yang mengemuka
Di bawah panji Ibunda,
Pusat segala asah asuh asih kita sepuluh bersaudara
Selamat jalan kakanda...
Salam ta'dzim dan rinduku untuk ayahanda...
Karya Hj Khodijatul Qodriyah, Ketua TP PKK Kabupaten Bondowoso
Editor : Sidkin