WNI di Bulan Juni
Juni datang kembali dengan wajah muram
menggendong kabar-kabar tak di inginkan
melalui hembusan angin sakal
yang bikin perut orang serontak kelaparan
Tanpa aba-aba BBM melompat seperti kuda lepas kendali
menginjak dapur-dapur rakyat kecil di pelosok negeri
membikin api kompor menyala dengan kekecilan
sebab setiap nyala adalah perhitungan dan pengorbanan
Sementara di layar berita, rupiah tersesat arah
akibat guncangan dolar yang semakin gagah
menunjuk ke bumi lalu ke tanah
bahwasannya angka bukan sekadar pajangan di papan perdagangan
tetapi luka yang menjalar ke pasar, jalanan, hingga pedesaan
Lalu korupsi datang lagi tanpa rasa malu
seperti masa lalu yang sulit berlalu
bermodalkan meja-meja kekuasaan sebagai kesempatan
menggerogoti amanah sampai terjerat kerakusan
di tengah program yang harusnya membuat kenyang bukan keracunan.
Sungguh, negeri ini tak kekurangan program mapan
tak kekurangan pula uang buat anggaran
tapi minus sekali kejujuran orang-orang yang menjalankan
sementara orang awam diminta percaya demi kemaslahatan
dan dalih negara agar semakin berkembang
Aku adalah WNI di bulan Juni
menyaksikan sandiwara yang terus terulangi
BBM meninggi, rupiah kehilangan harga diri
korupsi berpesta di tengah jerit ekonomi
Aku adalah WNI di bulan Juni
berdiri di antara cemas dan mimpi
masih mencintai tanah ini sepenuh hati
meski sering disuguhi kenyataan yang melukai.
Karya: Oleh: A. Propbeh FS
(Nama pena dari Hidayat Norwahit mahasiswa UIN KHAS Jember, Pernah nyarung di Ponpes Annuqayah daerah Lubsel, dan sempat berproses di Sanggar Basmalah)