Menakar Jarak 91 ke 77
Luka yang ku gores secara perlahan
Saat melihat 91 yang runtuh begitu saja
Angka itu menampar diriku hingga tak sadarkan
Langit yang menjulang tinggi, kini kian mendekat
Kugenggam langit sekuatku, tapi ia tetap jatuh dari tanganku
Saat jujur, kalah oleh cara dan ego di balik meja ujian
Jiwa ini perlahan tercekik oleh diam
Harapan yang menghilang dalam sekejap
Diriku tenggelam, jiwaku terhantam tanya yang tak terjawab
Sampai sejenak aku menitipkan diri ke ruang psikologi
Di tengah bisingnya kepala
Ada yang mengulurkan dan mencarikanku jalan
Merangkulku erat dalam bisik lirih:
“Rehatlah. Pikiranmu masih berat.
Jika belum kau lepas, terus bagaimana?”
“Dilarang menyerah. Selagi celah itu masih ada, perjuangkanlah.”
Sehingga aku tersadar dari frustasi yang mengakar di benakku
Meski begitu semesta sangatlah baik
Ia memberiku makan untuk tubuh
Dan obat yang dipersembahkan untuk jiwaku
Jiwa yang bangkit-
Meski jalannya retak dan berdarah
Karya: Salim Abuzaid (Anggota Forum Anak & Founder BersuaraLewatKarya._)
Editor : Sidkin