Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Politik Kekuasaan, Puisi Karya Mu’min Roup

Sidkin • Rabu, 1 Juli 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi puisi politik kekuasaan. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi politik kekuasaan. (Ijal/AI/Halojember)

 

Politik Kekuasaan

 

Ketika partai-partai bergerak
mendekati orbit kekuasaan,
sistem baru dirancang serapi mungkin
agar mendatangkan pilihan yang menguntungkan.
Maka, putusan Mahkamah Konstitusi direkayasa
agar dapat membuka jalan mulus dan licik
bagi kepentingan politik kekuasaan semata.
Dengan itu, satu nama yang diusung harus maju,
tanpa peduli adanya pelanggaran etik
demi ambisi dan obsesi untuk berkuasa.
Dalam waktu singkat, dua lembaga peradilan
mengesahkan keputusan vital,
dan satu keluarga akan segera diuntungkan.
Yang penting, segalanya akan dijelaskan
sebagai proses hukum yang sah dan legal formal.
Ya, dalam iklim politik kekuasaan,
rangkaian kebetulan terus bergerak di belakang layar,
dan sulit terbaca secara kasatmata.
Biarpun kotak suara tetap terbuka,
institusi bersidang dan suara tetap dihitung.
Semua berjalan normal di atas panggung.
Namun pada akhirnya, prosedur yang sama
selalu menghasilkan pemenang yang sama.
Karena itu, jika dinasti lama bekerja
dengan tangan besi kekuasaan,
maka dinasti baru bermain akrobat
dengan berbagai macam modifikasi
dilengkapi pelicin yang dapat mengenyangkan
perut-perut para konsituennya.

 

Karya Mu’min Roup, Dosen dan peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Editor : Sidkin
#Puisi Radar Jember #Politik kekuasaan #partai buruh #lembaga peradilan #Putusan Mahkamah Konstitusi