Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Nama Garam, Puisi Karya Mahendra

Sidkin • Selasa, 14 Juli 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi puisi nama garam. (TRI JOKO S/AI/HALOJEMBER)
Ilustrasi puisi nama garam. (TRI JOKO S/AI/HALOJEMBER)

 

Nama Garam

Sebelum Nusakambangan mengikat namamu,
aku mencoba menyederhanakan tubuh
menjadi puisi
yang bisa meniup pesan-pesan
lewat kepelan angin di latar dadaku.
Jejak-jejak
tak lagi mengenal pemiliknya.
Nama-nama memantul di air,
lalu hilang bersama senja
di mata orang-orang.
Di Nusakambangan,
bernapas bukan puisi.
Berjalan
berarti mencoba bunuh diri.
Sayangnya, pulau ini tak pernah dilirik pemuisi.
Sebab air tak pernah menjadi sajak,
dan angin selalu membawa garam.
Tepat di mata air, air mata,
kepada nama-nama yang dicoret paksa
sebelum sempat matahari menagih janji,
kepada angin yang menjadi garam,
ditiup senja sebelum sempat jadi kata.

 

Karya: Mahendra, Pegiat literasi Probolinggo, penulis buku Renung Pedoman Akal, Di Rahim Renung, Anestasi Rasa, dan Kekasih Air Mata.

Editor : Sidkin
garam angin puisi nusakambangan