Cinta dan Benci
Keturunan PKI maupun keturunan Islam konservatif,
baik di pesantren maupun pusat kajian ilmiah,
tidak lebih mulia ketimbang tukang sol,
pemulung atau pedagang asongan,
jika mereka mempertahankan phobia anti Islam
maupun anti PKI.
Bila keduanya memelihara keyakinan pada takhayul,
mereka tidak lebih mulia ketimbang penyembah berhala
dan pencari pasugihan di Gunung Kawi maupun Kemukus.
Ya, mereka yang anti PKI maupun Islamophobia itu,
baik yang menamakan dirinya Habib maupun Marxis,
keduanya telah menggadaikan iman dan ketakwaan,
demi mengumbar syahwat kekuasaan
dan nafsu kebendaan yang bersifat duniawi belaka.
Karya: Hafiz Azhari, Peneliti Historical Memory, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.
Editor : Sidkin