Khalifah: Ketika Nestapa Menjadi Pelangi, Puisi Karya Salim Abuzaid 

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:52 WIB
ilustrasi Puisi "Khalifah: Ketika Nestapa Menjadi Pelangi" (Yulio/AI/RJ)
ilustrasi Puisi "Khalifah: Ketika Nestapa Menjadi Pelangi" (Yulio/AI/RJ)

Khalifah: Ketika Nestapa Menjadi Pelangi

Tuhan...  
Ragaku runtuh.  
Segunung nestapa bersemayam di punggungku  
Hingga sendi-sendiku merintih mengangkat cakrawala

Tapakku limbung,  
Bagai kapur yang diremuk seribu tapak  
Berkeping-keping, meluruh jadi abu tanpa jejak

Aku berseru pada kelam:  
"Mengapa takdirku berliku begini?"  
Laksana samudra yang terkurung dalam botol kaca  
Jasadku samudra daya
Namun kakiku terbelenggu badai yang kasatmata

Padahal tanpa kusadar, Kau telah menuntaskannya  
Tatkala kutunaikan kewajiban pada-Mu  
Maka Kau sempurnakan karunia untukku  
Lebih bernilai dari setumpuk emas yang mencair di bara dunia

Walau kerap aku khianati amanah sebagai Khalifah  
Tatkala rimba meratap dibelai kapak  
Tatkala sampah memohon ruang di perut bumi  
Tatkala alam meraung murka, merobohkan menara keangkuhan

Akan tetapi Kau...  
Masih menyulam mentari asa di relung dadaku  
Masih menganugerahi kami seribu asa dalam sekali hela napas

Sebab menjadi Khalifah hakiki  
Adalah menegakkan kebenaran tatkala dunia kelu  
Adalah menjadi peneduh tatkala semua terik kepanasan  
Adalah menyembelih ego demi menggendong amanah

Dan kini aku yakin...  
Setiap ujian yang Kau kirimkan  
Menyimpan pelangi yang tak pernah sanggup kupintal

Oleh Salim Abuzaid, Siswa MAN Bondowoso, Founder @Bersuaralewatkarya._ & Pegiat Literasi

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
Salim Abuzaid puisi