Frekuensi Iblis, Puisi Karya Hafis Azhari

Sidkin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 07:00 WIB
Frekuensi Iblis, Puisi Karya Hafis Azhari. (IJAL/AI/HALOJEMBER)
Frekuensi Iblis, Puisi Karya Hafis Azhari. (IJAL/AI/HALOJEMBER)

 

Frekuensi Iblis


Di tengah kegelapan malam yang pekat,
manusia akan bicara jujur apa adanya,
perihal nasibnya serta luka yang menimpa dirinya,
bahkan rasa frustasi yang sedang menghinggapinya.
Mereka dapat saja menyendiri dan berkhalwat
di Goa Hira, Goa Maria, Bukit Kemukus,
Bukit Thursina maupun Gunung Kawi.
Manusia dapat saja melontarkan segala hasrat,
keinginan dan cita-citanya,
bergantung dari apa yang hendak dicapainya.
Jika Anda terobsesi menjadi seorang penguasa,
apakah Anda bercita-cita meluruskan
dan membenahi peradaban umat?
Ataukah sekadar mementingkan hasrat kekayaan
yang bersifat materialistik belaka?
Jika pilihan kedua yang Anda harapkan,
tidak menutup kemungkinan Anda sedang berada
dalam frekuensi yang sama dengan setan dan Iblis,
yang hanya mementingkan urusan perut,
sambil menggadaikan kehidupan akhirat
yang bersifat abadi dan sejati.

 

Karya: Hafis Azhari, Peneliti Historical Memory, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.

Editor : Sidkin
Gunung Kawi jujur Bukit Thursina peradaban umat iblis