Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kesucian Jiwa, Puisi Karya Oleh Mu’min Roup

Yulio Faruq Akhmadi
Ilustrasi Puisi Kesucian Jiwa (Ijal/Gemini/RJ)
Ilustrasi Puisi Kesucian Jiwa (Ijal/Gemini/RJ)

Advertisement

 

Kesucian Jiwa
 
Kematian ego bukan semata kematian jasad
yang berhenti bernapas.
Itulah kematian yang menjadi pembuka jalan
bagi kehidupan yang lebih jernih dan sejati.
Sesuatu yang harus dilepaskan dengan ikhlas
sebelum jasad berhenti bergerak.
Kematian ego adalah kematian perasaan “aku”
yang selalu ingin menang sendiri,
selalu ingin berkuasa, dan selalu ingin dipuji.
Ketika melihat orang sukses,
maka datanglah rasa iri dan dengki,
hingga muncullah ego-ego yang terluka dan tersakiti.
Di akhir zaman ini, banyak orang hidup
dengan tubuh sehat, tetapi batinnya merasa lelah.
Bukan karena dunia terlalu berat,
melainkan karena egonya terus meminta pengakuan.
Karena itu, matikanlah ego-egomu,
keakuan dan kesombonganmu.
Matikanlah keterikatan dan kemelekatan berlebihan
terhadap topeng-topeng kepalsuanmu.
Tampillah jujur dan apa adanya,
demi untuk mematikan ego dan menjernihkan tauhid.
Sebab, Allah menegaskan dalam Al-Quran (Syams: 9),
“Beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (*)
 

Oleh Mu’min Roup, Dosen dan peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis esai dan prosa di berbagai media

Advertisement
Editor : Yulio Faruq Akhmadi

Artikel Terkait

Narasi Agama, Puisi Oleh Hafiz Ashari

Narasi Agama, Puisi Oleh Hafiz Ashari

Narasi Agama, Puisi Oleh Hafiz Ashari

Penjahat Kemanusiaan, Puisi Karya Hafiz Azhari

Penjahat Kemanusiaan, Puisi Karya Hafiz Azhari

Penjahat Kemanusiaan, Puisi Karya Hafiz Azhari

Kesatria Berselempang Doa, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Kesatria Berselempang Doa, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Kesatria Berselempang Doa, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer