Menorehkan Luka, Puisi Karya Hafis Azhari

Sidkin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi puisi menorehkan luka. (IJAL/HALOJEMBER/AI)
Ilustrasi puisi menorehkan luka. (IJAL/HALOJEMBER/AI)

 

Menorehkan Luka
 
Saat Rasulullah menimang puteranya yang wafat,
beliau merasa sedih dan meneteskan air mata.
Seketika Abu Lahab keluar dari rumahnya,
seraya melontarkan sumpah-serapah:
“Celaka kau, Muhammad!
Semua orang tahu bahwa kau telah terputus
dari Tuhan Anda!”
Tak lama kemudian Allah menurunkan surat Al-Kautsar,
suatu nama telaga dan danau yang indah
semerbak mempesona kelak di alam surgawi,
tempat orang-orang beriman berkumpul
dan bersuka-cita bersama keluarga dan handai-taulan.
Maka, Tuhan berfirman menghiburnya:
“Kami telah memberimu banyak kenikmatan,
maka dirikanlah salat dan tetap berkorban
untuk kebutuhan fakir-miskin.
Sungguh orang yang membencimu (Muhammad),
dialah yang terputus dari tuhannya.” (*)
 

 

Puisi Karya: Hafis Azhari, Peneliti historical memory, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten
 

 

Editor : Sidkin
Tuhan telaga luka muhammad rasulullah