Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Berikut Kelemahan Manchester United yang Dimanfaatkan Tottenham di Final Liga Europa

Halo Jember • Kamis, 22 Mei 2025 | 23:28 WIB

 

Para pemain Manchester United memberikan penghormatan kepada fans yang hadir di pertandingan melawan Tottenham Hotspur. (Instagram @manchesterunited)
Para pemain Manchester United memberikan penghormatan kepada fans yang hadir di pertandingan melawan Tottenham Hotspur. (Instagram @manchesterunited)

Halo Jember - Mimpi Manchester United untuk menutup musim dengan trofi Liga Europa kembali pupus, sekaligius mengubur mimpi tampil di Liga Champions musim depan.

Dalam partai final yang digelar di Stadion San Mamés, Bilbao, Tottenham Hotspur sukses mencuri kemenangan tipis 1-0 dan membawa pulang trofi Eropa pertama mereka dalam sejarah modern. 

Namun lebih dari sekadar hasil akhir, laga ini memperlihatkan sejumlah kelemahan mendasar yang selama ini kerap membayangi performa MU dan kali ini kelemahan itu dimanfaatkan sepenuhnya oleh Tottenham.

Dari segi penguasaan bola, Manchester United terlihat dominan di atas kertas.

Namun dominasi ini tak dibarengi dengan penetrasi atau ancaman nyata di kotak penalti lawan. Eriksen dan Fernandes, dua motor kreatif di lini tengah, tampak kesulitan menembus blok pertahanan Spurs yang tampil disiplin.

Bola-bola hasil build-up United berulang kali mati di sepertiga akhir pertahanan Spurs.

Statistik menunjukkan bahwa dari total tembakan yang dilepaskan, hanya sebagian kecil yang benar-benar menguji kiper Tottenham.

Minimnya penyelesaian akhir yang tajam menjadi celah yang mencolok dan tak berhasil diperbaiki hingga peluit panjang dibunyikan.

Lini Pertahanan yang Goyah

Gol semata wayang yang dicetak Brennan Johnson memang terlihat seperti keberuntungan karena defleksi Luke Shaw, namun di balik itu tersimpan cerita tentang miskomunikasi dan kerapuhan konsentrasi.

Dalam duel besar seperti final Eropa, kesalahan sekecil apapun bisa menjadi penentu hasil, dan kali ini hal itu terbukti.

Absennya Raphael Varane dan kondisi yang belum sepenuhnya fit dari beberapa bek membuat United tampak rawan diserang balik. Tottenham, dengan strategi yang efektif dan efisien, mampu memanfaatkan celah ini untuk mengunci kemenangan.

Baca Juga: MU di Era INEOS: Bagaimana Perkembangan Proyek Old Trafford ?

Minim Variasi dalam Serangan

United terlihat kehilangan arah ketika Tottenham mulai menutup ruang-ruang serangan utama. Kebergantungan pada serangan dari sisi sayap membuat permainan mereka mudah ditebak. Ketika rencana A gagal, tak ada rencana B yang bisa menjadi solusi.

Tekanan Mental dan Krisis Kepercayaan Diri

Satu aspek yang tak bisa diabaikan adalah mentalitas tim. Setelah tertinggal, United tidak menampilkan reaksi yang kuat untuk membalikkan keadaan. Sorot wajah para pemain tampak menunjukkan tekanan besar dan kelelahan emosional.

Hal ini bisa jadi cerminan musim panjang yang penuh inkonsistensi dan tekanan internal. Ketika peluang terakhir untuk menyelamatkan musim hilang begitu saja, United terlihat seperti tim yang sudah lama kehilangan arah.

Tottenham Tahu Cara Menyerang di Waktu yang Tepat

Kemenangan Tottenham tidak terjadi semata karena keberuntungan. Strategi mereka jelas: bertahan disiplin, menunggu kesalahan lawan, dan melancarkan serangan cepat saat momen terbuka.

Rencana ini berjalan efektif. Brennan Johnson menjadi ancaman konstan lewat kecepatan dan pergerakannya, yang akhirnya menghasilkan gol penentu.

Tottenham juga memenangi duel-duel penting di lini tengah dan membaca permainan United dengan baik. Baca Juga: Fakta Unik Kutukan dari Tim Spanyol di Liga Eropa: Apakah MU Kena Kutukan Itu?

Mereka tidak mencoba menguasai bola, melainkan mengatur ritme permainan lewat efisiensi dan pengendalian ruang.

Penulis : MG25 Vikriansyah

Editor : Dwi Siswanto
#Brennan Johnson #manchester united #luke shaw #tottenham #mu