HALOJEMBER - Habib Ahmad bin Ali Bafaqih, Tempel, Sleman Yogyakarta adalah ulama kharismatik yang hidupnya penuh kemalangan.
Bagaimana tidak, Habib Ahmad terlahir dengan kondisi fisik kurang sempurna. Dia terlahir cacat tuna daksa. Dari kecil, Habib Ahmad telah menerima berbagai cacian akibat kecacatannya. Sabar dan sabar menjadi kunci, ketabahan Habib Ahmad. Dia pun tidak membalas setiap cacian yang diterimanya.
Sudah mulai beranjak dewasa, kemalangan menimpa Habib Ahmad. Ayahnya Habib Ali bin Ahmad Bafaqih meninggal dunia. Kondisi ekonomi yang serba kurang ditambah memiliki saudari perempuan dan perlu penghidupan.
Hal itu Membuat Habib Ahmad terus berusaha bagaimana bisa memberikan makan untuk dirinya dan saudarinya. Habib Ahmad Bafaqih pun pernah berjualan korek api.
Dikisahkan juga, Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil pernah bertanya kepada Habib Ahmad, tentang kehidupannya. Habib Ahmad kemudian cerita, dulunya ia adalah orang miskin, ayahnya wafat dengan meninggalkan saudari-saudari perempuan yang banyak.
"Aku ini orang cacat yang tidak bisa bekerja," kata Habib Ahmad.
Pada suatu hari saudari-saudarinya merasa kelaparan, di rumah tidak ada makanan sama sekali. Mereka meminta kepada kepada Habib Ahmad untuk mencarikan makanan. Ia berpikir dari mana mendapatkan makanan?
“Wong jalan saja harus tertatih-tatih sambil berpegangan tembok,”
Terpaksa dirinya keluar rumah mencari makanan. Tidak ada orang yang kasihan. Jangankan memberi sesuatu, menjawab salam saja mereka enggan.
"Karena melihat diriku yang seperti ini. Aku terus berjalan dan berjalan sampai capek," kisahnya. Habib Ahmad istirahat dan duduk-duduk di Masjid Agung Yogyakarta sampai malam. Karena waktu sudah malam, penjaga Masjid itu menyuruhnya keluar dari masjid. Kalau tidak keluar, maka akan segera dikunci dari luar.
Tapi, ia tidak mau keluar, akhirnya dikunci di dalam masjid sendirian. Habib Ahmad menangis di dalam Masjid. Ia sudah putus asa dari manusia. Di tengah larut malam, ia bermunajat kepada Allah. "Tidak ada manusia yang mau kepadaku, siapa lagi yang mau memungut diriku, selain Engkau ya Allah. Aku mengeluh Kepada-Mu, aku pasrah diri pada-Mu."
Di tengah bermunajat itu, Habib Ahmad mendengar suara salam. “Assalamu ‘Alaikum...." “Wa ‘alaikumussalaam..." “Anda siapa?," tanya Habib Ahmad. “Aku Kakekmu Muhammad Rasulullah Saw.." Kemudian Rasulullah berkata, "Innaa Fatahnaa Laka Fathan Mubiinaa. Nanti akan datang orang yang mengajar kamu."
Tak lama, muncul Nabi Khidir memberi kabar bahwa mulai besok rizkinya akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahnya. “Di pagi harinya aku pulang ke rumah dan saudari-saudariku masih kelaparan. Tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah," kisahnya.
Sejak saat itu, tamu datang silih berganti kepada Habib Ahmad Tempel Yogyakarta. Masyarakat umum, para pejabat sampai ulama kharismatik asal Makkah, yakni Sayyid Muhammad Al-Maliki turut berkunjung ke rumahnya. Namun kewalian dan kekeramatan itu beliau dapatkan setelah mengalami bermacam penderitaan.
Habib Ahmad Tempel pernah berucap di masa kholwatnya atau pengasingan diri. Beliau tidak akan mau keluar dari kholwat terkecuali Habib Sholeh Tanggul yang mengeluarkan. Kesaksian itu disampaikan Habib Muhdhor Al Hamid yang ketika masih muda pernah diajak ayahnya, Habib Muhammad bin Sholeh Tanggul sowan ke rumah Habib Ahmad Tempel.
Bersama Kiai Abdul Malik Purwokerto, Habib Ahmad mudah berjumpa Nabi Khidir dan mengetahui 'penyamaran' Nabi Khidir dengan mudah. Di kalangan para ulama pada jamannya, kedudukan Habib Ahmad Tempel sangatlah dihormati. Habib luthfi Bin Yahya Pekalongan pernah bercerita kepada Habib Abdul Hadi Baragbah Tegal, bahwa Habib Ahmad pernah bilang kepada Habib Luthfi yang waktu itu masih muda. ”Bahwa Habib Ahmad mimpi gendong-gendongan sama Habib Luthfi di ‘Arsy.”
Kisah ini dikutip dari laman fatahyasin.my.id.
Editor : Halo Jember