HALOJEMBER.COM - Sudah sepekan lebih warga lingkungan RT 04 RW 05, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, kesulitan mendapatkan air bersih. Pasalnya, sumur di rumah yang biasa mereka gunakan itu belakangan mengeluarkan bau bahan bakar solar.
Tak hanya bau solar, sumur warga juga menjadi keruh dan berwana kehitaman. Akibatnya, beberapa warga terpaksa menumpang air bersih ke sumur-sumur milik warga lainnya.
Belakangan diketahui, penyebab pencemaran itu berasal dari tumpahan bahan bakar solar yang rembes dari sebuah tandon BBM untuk alat berat proyek perbaikan Terminal Tawang Alun, Rambipuji, Jember.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, Senin (3/6), pelaksana proyek sempat mengupayakan mengurus sumur. Sebab, terlihat sebuah mesin pompa air untuk menguras sumur warga dan membuang airnya ke selokan.
Namun, upaya itu sepertinya tak membuahkan hasil. Sumur tetap keruh dan mengeluarkan bau solar. "Sudah seminggu lebih sumur di sini tercemar, mengeluarkan bau solar," tutur Imam Syafi'i, ketua RT setempat, saat ditemui, kemarin (3/6).
Warga setempat sempat mengeluhkan kepada pihak pelaksana proyek agar segera ada solusi. "Memang ada kebocoran pada Minggu, 19 Mei kemarin, ke area pemukiman, sekitar 900 liter bahan bakar jenis solar industri," tutur Ahmad Reza, staf PT Indopenta Bumi Permai (IBP), penggarap proyek perbaikan terminal tersebut, saat ditemui, kemarin (3/6).
Reza menyebut, PT IBP sempat menerima dua laporan warga setempat yang mengeluhkan sumurnya berbau solar. Pihak PT juga sempat mengecek dan membenarkannya. "Memang benar, sumurnya tercemar. Penyebabnya kebocoran tandon, kami kurang tahu," beber dia.
Pihak pelaksana pada proyek senilai Rp 25,9 miliar itu menjanjikan akan membuatkan sumur baru untuk warga dan menguras sumur yang lama. "Langkah kami, akan kami konfirmasi ke warga terdampak. Kami ajukan untuk pembuatan sumur baru di area depan rumah warga, dan kuras sumur yang lama," imbuhnya.
Di lokasi yang sama, DLH Jember dan anggota dewan mendesak pihak kontraktor untuk segera mencarikan jalan keluar. DLH juga berencana menyurati pelaksana proyek terkait komitmennya menyelesaikan pencemaran itu. "Kami minta harus ada sumber air bersih untuk warga. Tak harus PDAM," kata Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan DLH Jember Evi Eka Nurcahyanti saat inspeksi.
Menurut dia, ketika air sumur sudah tercemar, butuh waktu lama untuk proses pemulihan sampai air sumur jernih kembali. Pihaknya belum memastikan seberapa lama, karena belum dilakukan uji laboratorium. "Karena yang tumpah sekitar 1.000 liter, besar kemungkinan butuh proses bertahun-tahun untuk tanahnya itu menghasilkan air seperti semula. Kalau cuma 1 liter enteng," tambahnya.
Anggota DPRD Jember, David Handoko Seto dan Hamim, yang juga inspeksi ke lokasi, saat itu juga meminta komitmen PT IBP agar menyediakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga. Dia mengkhawatirkan, jika tak kunjung tertangani, masalah itu akan berlarut-larut.
"Sebenarnya tanpa uji lab dari baunya sudah jelas. Airnya sudah tidak bisa digunakan, untuk mandi saja tidak bisa. Jadi, kami minta sesuai dengan permintaan warga agar dibuatkan sumur baru. Apalagi kalau sudah hujan seperti ini, saya pastikan akan bertambah," katanya. (mau/c2/fid)
Editor : Halo Jember