HALOJEMBER.COM – Mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) mengajak peternak sapi di Desa Tempurejo untuk mengubah limbah kotoran sapi menjadi pupuk.
Peternak sapi di Desa Tempurejo kurang lebih sebanyak 642 orang. Banyaknya peternak ini menyebabkan tingginya produksi limbah kotoran ternak.
Di Dusun Karanganyar, limbah kotoran ternak mencapai 5 kwintal per hari dan bahkan bisa mencapai 1 ton per hari di seluruh Desa Tempurejo.
Limbah kotoran ternak yang menumpuk menimbulkan polusi udara dan lingkungan akibat bau menyengat yang sangat mengganggu, terutama bagi masyarakat yang tinggal di dekat kandang ternak. Hal ini juga memicu penyebaran penyakit.
BACA JUGA: Tebus Obat Lebih Mudah dan Cepat dengan SI DOA Aplikasi Kesehatan Buatan Mahasiswa Polije
Namun, kotoran ternak sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi pertanian karena kandungan nutrisinya yang kaya.
Menyadari potensi ini, mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) bekerja sama dengan Relawan Peduli Masyarakat Jember Desa Tempurejo melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Pendidikan Vokasi.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi limbah kotoran ternak untuk meningkatkan potensi pertanian di Dusun Karanganyar, Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember.
Ketua pelaksana kegiatan ini adalah Selvi Nur Isnaini, mahasiswa program studi Budidaya Tanaman Perkebunan (BTP) Jurusan Produksi Pertanian Angkatan 2023.
BACA JUGA: DEDIKASI, Ruang Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa Polije
Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari beberapa mahasiswa jurusan produksi pertanian, termasuk Agnes Nisriandi Dakhi dan Putri Dini Aminarti dari program studi Budidaya Tanaman Perkebunan (BTP), Devi Indriani dari program studi Teknologi Produksi Tanaman Pangan (TPP), dan Gabriel Santana Ginting dari program studi Teknik Produksi Benih (TPB), dibawah bimbingan Ibu Anni Nuraisyah.
Teknologi yang digunakan dalam pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kandang melibatkan penggunaan dekomposer, yang telah dipelajari dalam perkuliahan semester dua.
Dekomposer ini dibuat dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal (MOL) dari rumen sapi.
Dekomposer disemprotkan pada kotoran sapi, kemudian diaduk hingga merata. Setelah itu, ditutup menggunakan terpal dan didiamkan selama 3 minggu, sehingga menghasilkan pupuk kendang.
Pupuk kandang yang dihasilkan mengandung nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), yang semuanya merupakan nutrisi penting untuk pertumbuhan tanaman.
Nitrogen membantu dalam pembentukan protein dan klorofil, fosfor berperan dalam pembentukan akar, bunga, dan buah, sementara kalium diperlukan untuk mengatur proses metabolisme tanaman.
Penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk dapat meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki strukturnya, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga lebih ramah lingkungan.
Harapannya, melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat ini, limbah kotoran ternak di Desa Tempurejo dapat berkurang dan pertanian di desa ini dapat meningkat secara signifikan. Dengan demikian, potensi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Desa Tempurejo dapat terus berkembang dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Editor : Halo Jember