HALOJEMBER - Curah hujan yang tinggi di wilayah kecamatan Wuluhan dan Ambulu membawa dampak ke pertanian. Salah satunya petani yang menanam jagung.
Selain kondisi tanaman jagung yang hendak itu panen, rentan rusak akibat hujan yang terus menerus. Tapi juga, proses pengeringan jagung juga terhambat.
Seperti yang dialami Manusi, 55 warga Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, jagung yang dua pekan lalu dipanen hingga kini masih belum kering.
“Sudah setiap hari dijemur, belum keringnya juga. Sehingga terpaksa ditumpuk lagi dan ditutup terpal. Biasanya kalau matahari panas, jagung dalam waktu tiga hari sudah kering,” paparnya.
Pengeringan jagung yang tidak maksimal itu berdampak ke harga jual.
“Ya kalau jualnya tidak kering harganya murah. Kalau dijual kering itu harganya bisa mencapai Rp 47 ribu – Rp 55 ribu per kuintal,” tuturnya.
Jagung yang tidak begitu kering itu juga terlihat dari warnanya. Selain itu, bobot jagung yang tidak kering juga lebih berat.
Sehingga, oleh pembeli dibeli dengan harga sangat murah. “Kalau dijual murah, ya rugi banyak,” imbuhnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, di halaman rumah Manusi, juga banyak petani jagung yang numpang untuk menjemur.
Karena, halamannya yang sudah di semen sehingga mempercepat proses pengeringan. (jum/dwi)
Editor : Halo Jember