JAKARTA TUA
Em,..
Stasiun bercorak Belanda, itu masih awal
Lalu langkahku kulanjutkan
Sungguh Jakarta tua...
Belanda masih hidup di tengah-tengah kota
Bedanya, merah putih berkibar di atas bangunan tua
Sudah...
Belanda sudah lari terbirit-birit
Sudah tak ada lagi kompeni di ruas-ruas kota
Tak akan kau saksikan lagi bualan kerja paksa
Juga tak akan kau saksikan lagi 10 November dalam cerita
Apalagi bandung lautan api, karena ini Jakarta
Akh...
Bangunan tua Jakarta tua
Malah kau ingatkanku tentang gugurnya dewa-dewa bangsa
Kenapa tak robohkan saja
Toh,.. disana bukan lagi tempat bernostalgia sejarah bangsa
Muda-mudinya justru pemuja Belanda
Benarkah,...?
Kau lihat saja
Makna Indonesia habis dimakan rayap Eropa
Tak ada lagi keanggunan wanita Indonesia, mudinya
Mudanya, entahlah...
Mungkin sudah waktunya Indonesia berubah lagi menjadi Belanda
Tapi,...
Ini kan Indonesia
Ya,..
Namanya saja, maknanya?
Sudah mati di pusara tanpa nisan cinta
*Mahasiswa asal Bondowoso yang kuliah di STT Nurul Jadid dan Pegiat Seni di Teater Kala, Paiton Probolinggo
Editor : Sidkin