Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengunjungi Museum Terbuka Megalitik Bondowoso

Dwi Siswanto • Selasa, 18 November 2025 | 00:15 WIB
Di sebuah desa yang tidak jauh dari jalan utama Jember – Bondowoso, terdapat lokasi patut untuk dikunjungi. Bukan sekedar destinasi wisata biasa, tapi menjadi pembelajaran sejarah masa lampau. Inilah
Di sebuah desa yang tidak jauh dari jalan utama Jember – Bondowoso, terdapat lokasi patut untuk dikunjungi. Bukan sekedar destinasi wisata biasa, tapi menjadi pembelajaran sejarah masa lampau. Inilah

# Jejak Batu Purba yang Menyimpan Sejuta Cerita

Di sebuah desa yang tidak jauh dari jalan utama Jember – Bondowoso, terdapat lokasi patut untuk dikunjungi. Bukan sekedar destinasi wisata biasa, tapi menjadi pembelajaran sejarah masa lampau. Inilah Museum Terbuka Megalitik Bondowoso (MTMB).

ILHAM WAHYUDI - Bondowoso

Sebuah arca yang berdiri tegak menjadi pembuka saat berkunjung ke MTMB. Arca yang bentuknya, mirip arca raksasa di Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah itu seperti ingin bercerita tentang kehidupan Bondowoso masa lampau.

Walau bentuknya mirip arca di Sulteng, tapi arca di Bondowoso punya nama sendiri.

Yaitu ‘Batu Nyai’ atau dalam bahasa Madura, Betoh Nyai. “Arca Betoh Nyai ini hanya replika saja. Arca Batu Nyai yang asli masih ada Situs Pekauman, Kecamatan Grujugan yang lokasi juga tidak jauh dari MTMB,” Kabid Kebudayaan, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan

Museum Terbuka Megalitik Bondowoso (MTMB), lokasinya hanya sekitar 11 kilometer dari pusat Bondowoso atau bisa ditempuh sekitar 17 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Akses menuju lokasi sudah beraspal mulus.

Dari jalan utama Jember – Bondowoso hanya berjarak sekitar 600 meter.

 Koleksi benda megalitik tertata di area terbuka yang rindang. Terdapat batu dolmen, menhir, batu kenong, hingga peti kubur batu, masing-masing dilengkapi dengan papan informasi. Tak hanya sekadar pajangan, setiap batu seakan mengajak pengunjung menelusuri jejak spiritual dan sosial manusia masa lampau.

“Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, khususnya tentang peninggalan leluhur dan fungsi-fungsi batu ini,” ujar Mohammad Adnan Buyung Nasution, salah satu pengunjung yang datang untuk pertama kali sejak museum berganti nama dari Pusat Informasi Megalitik Bondowoso (PIMB) menjadi MTMB.

Ia mengaku terkesan dengan keramahan para juru pelihara (jupel) yang bertugas bergantian menjaga situs. “Mereka sabar menjelaskan sejarahnya, bahkan ada yang cerita soal legenda di balik batu-batu ini. Kayaknya saya harus datang lagi,” tambahnya. (dwi)

 Baca Juga: Dari Webtoon ke Layar Kaca: Study Group, Kisah Anak Sekolah yang Harus Belajar dan Bertarung Demi Masa Depan

Dari Situs Penelitian hingga Destinasi Edukasi

DI Museum Terbuka Megalitik Bondowoso (MTMB) terdapat lebih dari 252 koleksi benda megalitik yang tersimpan rapi. Baik di ruang terbuka maupun dalam ruangan.

Menurut Kabid Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Gede Budiawan, koleksi tersebut terdiri dari berbagai jenis, mulai dari batu kenong, dolmen, batu dakon, hingga lapik arca. “Benda megalitik yang ditemukan di Bondowoso menjadi yang paling lengkap di Pulau Jawa. Karena itu, banyak akademisi menjadikan Bondowoso sebagai rujukan penelitian,” jelasnya.

Bondowoso sendiri diyakini memiliki tradisi megalitik tertua dan terpanjang di Nusantara. Setiap batu yang ditemukan di kawasan ini memiliki fungsi yang berbeda—ada yang digunakan sebagai tempat ritual, simbol status sosial, hingga makam tokoh penting.

“Yang paling banyak ditemukan adalah dolmen dan batu kenong kembar. Uniknya, beberapa di antaranya masih utuh meski berusia ribuan tahun,” ujar Gede.

Kini, kawasan museum tak hanya menjadi destinasi sejarah, tetapi juga ruang edukasi bagi pelajar dan peneliti.

Sekolah-sekolah bahkan rutin mengadakan kunjungan lapangan untuk mengenal langsung peradaban purba leluhur Nusantara. “Target kami bukan hanya menjaga situs, tapi juga membuatnya hidup. Kami ingin pengunjung bisa merasakan sensasi berwisata di tengah jejak nenek moyang,” pungkasnya. (ham/dwi)

Editor : Dwi Siswanto
#spiritual #megalitik #museum #arca #bondowoso