Halojember - Kualitas visual menjadi faktor utama yang membuat film horor terbaru Indonesia, Kuyank, langsung mencuri perhatian penonton sejak awal penayangan.
Sosok makhluk kuyang dalam film ini digarap menggunakan teknologi CGI kelas premium oleh LMN Studio, studio efek visual asal Indonesia yang telah lama dipercaya mengerjakan berbagai proyek film besar nasional maupun internasional.
Studio berbasis di Jakarta itu sebelumnya terlibat dalam penggarapan efek visual sejumlah film Indonesia berskala besar seperti Gundala, Sri Asih, Foxtrot Six, hingga Satria Dewa Gatotkaca.
Pengalaman menggarap proyek internasional, termasuk serial Netflix Alice in Borderland, membuat kualitas visual Kuyank tampil di atas rata-rata film horor lokal.
Hasilnya, wujud kuyang dalam film ini tampak jauh lebih realistis, mulai detail tekstur hingga pergerakan makhluk yang terasa hidup di layar.
Penonton tak hanya dibuat tegang, tetapi juga terpukau oleh kualitas visual yang jarang ditemui dalam produksi horor domestik.
Visual yang kuat tersebut berpadu dengan akting solid para pemeran utama.
Rio Dewanto memerankan Badri, sosok suami yang terjebak konflik rumah tangga sekaligus teror gaib, sementara karakter Rusmiati—perempuan yang memilih jalan ilmu hitam demi memiliki keturunan—diperankan Putri Intan Kasela dengan emosi yang intens.
Film ini juga diperkuat kehadiran aktor senior Barry Prima serta Ochi Rosdiana yang menambah dinamika konflik cerita.
Tak sekadar menawarkan teror, film ini juga mengangkat unsur budaya lokal Kalimantan melalui penggunaan bahasa daerah, lokasi syuting asli, hingga keterlibatan talenta lokal sehingga suasana desa dan konflik sosial terasa lebih autentik.
Pendekatan ini membuat horor yang ditampilkan terasa lebih dekat dengan realitas masyarakat setempat.
Perpaduan visual realistis, akting kuat, serta cerita berbasis budaya lokal membuat pengalaman horor terasa lebih hidup.
Dampaknya langsung terlihat di bioskop. Dalam beberapa hari pertama penayangan, film ini menembus lebih dari 100 ribu penonton dan terus bertambah.
Menempatkannya sebagai salah satu film horor Indonesia paling ramai di awal 2026, sekaligus memperkuat semesta cerita yang sebelumnya diperkenalkan lewat Saranjana Kota Gaib yang lebih dulu sukses besar di pasar domestik.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi