
Halojember - Setiap tanggal 22 Oktober tiba, ritus peringatan hampir selalu bermula dari nada yang seragam: pekik heroisme Resolusi Jihad 1945, arak-arakan sarung yang rapi, dan deretan pidato pejabat yang mengulang puja-puji atas jasa kaum santri bagi republik. Romantisisme sejarah ini tentu beralasan dan layak dirawat. Namun, ketika peringatan Hari Santri Nasional kini memasuki tahun 2026, sebuah pertanyaan yang jauh lebih subtil, personal, dan mendesak justru patut diajukan ke hadapan cermin peradaban kita: Apa kabar santri hari ini?
Pertanyaan sederhana ini bukan sekadar basa-basi seremonial. Di persimpangan zaman yang serba cepat, kaum santri berdiri di tengah tarikan dua kutub realitas yang kontras: gegap gempita panggung peradaban luar yang kian canggih, berhadapan langsung dengan keheningan dapur sendiri yang menyimpan berbagai pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Menatap Panggung Luar: Sanad Keilmuan di Era Kecerdasan Buatan
Menengok ke panggung luar, lanskap peradaban telah berubah secara radikal. Kita hidup di era ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence) mampu memproduksi fatwa instan, algoritma digital mendikte selera berpikir, dan arus informasi yang meluap acap kali menenggelamkan hikmah di balik tumpukan disinformasi. Dalam lanskap yang limbung oleh pendangkalan nalar ini, tradisi klasik pesantren sesungguhnya memiliki penawar yang sangat berharga.
Konsep sanad keilmuan yang selama berabad-abad diwariskan dari bilik-bilik pesantren—bahwa sebuah pengetahuan harus memiliki silsilah yang sahih, terverifikasi, dan dipertanggungjawabkan integritas moralnya—menjadi antitesis paling relevan terhadap banalitas dunia digital.
Kaum santri masa kini tidak lagi cukup hanya mahir melafalkan bait-bait Alfiyah atau menghafal teks fikih klasik; mereka dituntut mentransmisikan kedalaman etika itu ke dalam bahasa teknologi, koding, tata kelola sains, dan ekonomi sirkular. Membawa kearifan kitab kuning ke dalam gelanggang kecerdasan buatan adalah mandat peradaban yang tak terelakkan bila santri tak ingin sekadar menjadi penonton pasif perubahan.
Membenahi Dapur Sendiri: Menegakkan Ruang Aman dan Humanisasi
Namun, keberanian menatap panggung luar akan runtuh menjadi ironi jika kita menutup mata terhadap apa yang sedang terjadi di "dapur sendiri". Kita tidak boleh silau oleh megahnya retorika kepemimpinan nasional santri sementara di ruang-ruang asrama masih tersisa kabar muram tentang perundungan (bullying), kerentanan kesehatan mental, higienitas fasilitas yang minim, hingga kasus kekerasan yang mencoreng kesucian institusi pendidikan tertua di Nusantara ini.
Menanyakan "apa kabar santri?" menuntut keberanian untuk menatap titik-titik kelam tersebut secara jujur, bukan defensif. Tradisi kepatuhan mutlak dan kultur takzim (penghormatan) kepada guru dan senior—yang sejatinya bermakna pembentukan akhlak karimah—kerap kali terdistorsi menjadi dinding tebal yang membungkam suara korban atau menutup rapat transparansi manajemen.
Kita perlu menegaskan kembali bahwa memuliakan santri berarti menjamin hak dasar mereka atas ruang belajar yang aman, manusiawi, dan bermartabat. Pesantren tidak akan kehilangan karamahnya hanya karena membuka diri terhadap standar perlindungan anak, tata kelola modern, dan pengawasan berbasis empati. Justru di situlah martabat luhur pesantren diuji dan disempurnakan.
Merawat Integritas: Jalan Menuju Santri Seutuhnya
Maka, panggung luar dan dapur sendiri adalah dua sisi dari keping mata uang yang sama. Pesantren tidak akan mampu melahirkan generasi penuntun zaman yang berintegritas tinggi jika di dalam biliknya sendiri masih ada santri yang belajar dalam ketakutan atau merasa terabaikan hak-hak kemanusiaannya. Begitu pula sebaliknya, kenyamanan internal akan menjadi kesia-siaan belaka jika santri gagal membaca tanda-tanda zaman dan tersisih dari arus kemajuan dunia.




